JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali terperosok ke zona merah pada perdagangan Selasa (29/9/2026), menandai pelemahan selama empat hari berturut-turut. Indeks dibuka terkoreksi sebesar 1,12% atau 68,77 poin ke level 6.079,08.
Tekanan jual melanda hampir seluruh lini sektor di pasar modal domestik. Data RTI menunjukkan sebanyak 439 saham mengalami penurunan, sementara hanya 132 saham yang mampu menguat dan 143 saham lainnya bergerak stagnan.
Total volume perdagangan tercatat mencapai 4,2 miliar saham dengan nilai transaksi keseluruhan sebesar Rp 1,3 triliun. Seluruh 11 indeks sektoral berada dalam tekanan, dengan sektor teknologi memimpin pelemahan melalui IDX-Techno yang anjlok 4,05%.
Sektor transportasi dan energi turut mencatatkan penurunan signifikan masing-masing sebesar 2,13% dan 1,95%. Di jajaran saham berkapitalisasi besar atau LQ45, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menjadi pemberat utama dengan koreksi tajam sebesar 13,95% ke level Rp 37 per saham.
Selain itu, saham dari sektor energi seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) masing-masing melemah 4,73% dan 3,47%. Di sisi lain, saham perbankan dan konsumer seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dan PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) masih mencatatkan penguatan tipis.
Sentimen negatif yang menekan pasar saham domestik bersumber dari kombinasi faktor eksternal dan internal. Kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun yang menembus level 5,27% menjadi katalis utama, mengingat angka tersebut merupakan level tertinggi dalam 19 tahun terakhir.
Lonjakan imbal hasil obligasi AS dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap potensi suku bunga tinggi yang lebih lama oleh Federal Reserve. Kondisi ini diperparah dengan penguatan dolar AS serta ketidakpastian geopolitik yang menjaga harga energi tetap berada di level tinggi.
Pasar bereaksi terhadap spekulasi bahwa ekonomi AS yang kuat dapat memicu kenaikan suku bunga lanjutan hingga pertengahan 2027. Dampak ini tidak hanya terbatas di Indonesia, namun juga menyeret mayoritas bursa saham di kawasan Asia ke zona merah.
Dari sisi domestik, pelaku pasar saat ini tengah mencermati implementasi kebijakan baru Bursa Efek Indonesia (BEI). Kebijakan tersebut menurunkan batas harga minimum saham menjadi Rp 1 per lembar.
Analis menilai perubahan aturan ini berpotensi meningkatkan volatilitas pasar, terutama pada saham-saham berharga rendah. Penyesuaian rentang harga dan mekanisme auto rejection menjadi tantangan baru bagi investor di tengah iklim ekonomi yang menantang.
Selain volatilitas pasar modal, industri hilir di dalam negeri juga menghadapi tekanan dari sisi fundamental. Beban produksi yang terus meningkat serta ketidakjelasan realisasi kebijakan bea masuk bahan baku menjadi beban tambahan bagi emiten manufaktur, termasuk sektor plastik yang marginnya kini berisiko tertekan.






