JAKARTA – Sejumlah wilayah di Pulau Kalimantan kini terkurung dalam polusi udara berbahaya akibat lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masif. Indeks Kualitas Udara (AQI) di beberapa kabupaten bahkan menembus angka 700, jauh melampaui ambang batas aman bagi kesehatan manusia.
Data IQAir per Jumat (4/9/2026) menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2,5 mencapai level ekstrem di berbagai titik. Kondisi ini menempatkan masyarakat pada risiko tinggi terkena penyakit pernapasan akut serta gangguan kardiovaskular.
Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, tercatat sebagai wilayah dengan kualitas udara terburuk dengan poin AQI mencapai 710. Konsentrasi PM2,5 di wilayah tersebut melonjak hingga 430,9 µg/m³.
Situasi serupa terjadi di Kabupaten Murung Raya dengan AQI 641 dan Kabupaten Katingan dengan AQI 638. Wilayah lain seperti Barito Selatan, Kotawaringin Timur, Kota Pontianak, dan Kubu Raya juga mencatat angka AQI di atas 300 yang dikategorikan berbahaya.
Dampak asap karhutla dari Kalimantan tidak hanya dirasakan warga lokal, tetapi telah melintasi batas negara. Wilayah Sarawak, Malaysia, melaporkan tingkat polusi udara yang parah akibat kiriman asap tersebut.
Di IPD Serian, Samarahan, Sarawak, poin AQI tercatat mencapai 880 dengan konsentrasi PM2,5 sebesar 516,4 µg/m³. Kota Kuching pun terdampak dengan poin AQI 298 yang masuk dalam kategori sangat tidak sehat.
Kementerian Kehutanan mencatat adanya lonjakan titik panas (hotspot) di Kalimantan dari 336 menjadi 518 titik. Peningkatan ini memicu kabut asap tebal yang mengganggu aktivitas pendidikan, penerbangan, hingga jarak pandang di lapangan.
Sebagai langkah tegas, Kementerian Kehutanan telah menjatuhkan sanksi pembekuan izin usaha kehutanan kepada lima perusahaan di Kalimantan Barat. Tindakan ini diambil setelah terbukti terjadi kebakaran di lahan konsesi mereka seluas 2.568 hektare.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus mengoptimalkan dukungan udara dalam upaya penanganan karhutla. Penanganan lewat jalur udara dianggap krusial untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat.
Masyarakat di wilayah terdampak sangat disarankan untuk menghindari aktivitas luar ruangan. Penggunaan masker standar polusi diwajibkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah.
Otoritas kesehatan setempat mengimbau agar hunian tetap tertutup guna meminimalisir masuknya partikel polutan ke dalam ruangan. Warga diminta terus memantau arahan resmi terkait perkembangan kualitas udara.
Indeks AQI sendiri merupakan tolok ukur yang mempertimbangkan enam polutan utama, termasuk PM2,5 dan PM10. Angka di atas 300 dikategorikan sebagai kondisi berbahaya yang dapat memicu dampak kesehatan serius bagi seluruh lapisan populasi.
Kondisi kabut asap yang berkepanjangan sebelumnya telah memaksa ratusan sekolah di Sarawak, Malaysia, untuk ditutup sementara. Langkah preventif ini diambil guna melindungi kesehatan siswa dari paparan udara beracun.
Patroli dan kesiapsiagaan di tingkat daerah terus ditingkatkan seiring dengan puncak musim kemarau. Pemerintah terus berupaya mengendalikan penyebaran titik api agar tidak meluas ke wilayah pemukiman penduduk.






