Bursa Saham

BEI Gandeng Alpaca, Investor Indonesia Kini Bisa Akses 50 Bursa Global

82
×

BEI Gandeng Alpaca, Investor Indonesia Kini Bisa Akses 50 Bursa Global

Sebarkan artikel ini
Suasana penandatanganan nota kesepahaman kerja sama strategis antara BEI dan Alpaca di Jakarta.
BEI resmi menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi finansial Alpaca untuk memperluas akses pasar modal global bagi investor Indonesia.

JAKARTA – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi menjalin kemitraan strategis dengan perusahaan teknologi finansial asal Amerika Serikat, Alpaca, untuk menjajaki akses pasar modal lintas negara bagi investor domestik. Kerja sama ini ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) di Gedung BEI, Jakarta, pada Selasa (1/9/2026).

Langkah ini diproyeksikan sebagai upaya memperluas cakupan investasi bagi pelaku pasar di Indonesia. Melalui kolaborasi tersebut, anggota bursa di Indonesia ke depannya berpeluang memfasilitasi nasabah untuk mengakses berbagai bursa global secara langsung melalui platform domestik.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan respons atas tingginya minat investor Indonesia terhadap aset luar negeri. Selama ini, banyak investor domestik terpaksa menggunakan platform asing yang tidak terdaftar di bursa lokal untuk melakukan transaksi global.

“Ini tentu akan menjadi potensi bisnis dan sumber pendapatan baru bagi anggota bursa kita,” ujar Jeffrey dalam keterangannya.

Alpaca dikenal sebagai platform fintech yang memiliki konektivitas dengan lebih dari 50 bursa efek di berbagai negara. Pengalaman teknis dan infrastruktur yang dimiliki Alpaca diharapkan dapat menjadi jembatan bagi perusahaan sekuritas di Indonesia untuk terhubung ke pasar internasional.

Inisiatif ini sejalan dengan mandat Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK). Regulasi tersebut membuka ruang bagi anggota bursa untuk menyediakan layanan transaksi produk aset luar negeri (PALN).

Saat ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang memfinalisasi aturan turunan terkait implementasi layanan tersebut. BEI mengambil langkah proaktif untuk mempersiapkan ekosistem dan infrastruktur agar anggota bursa siap beroperasi saat regulasi resmi diterbitkan.

BEI menekankan bahwa kerja sama dengan Alpaca saat ini masih berada pada tahap awal penjajakan dan pertukaran pengetahuan. Belum ada penunjukan eksklusif terhadap Alpaca sebagai satu-satunya fasilitator layanan PALN di masa mendatang.

Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya BEI dalam menjaga relevansi pasar modal di tengah pertumbuhan investor yang masif. Hingga Agustus 2026, jumlah investor pasar modal di Indonesia telah melampaui angka 30,27 juta Single Investor Identification (SID).

Ekspansi ke pasar global dinilai penting di tengah tren pasar ekuitas dunia yang menunjukkan penguatan luas. Data pasar menunjukkan lebih dari 80% exchange-traded funds (ETF) berbasis negara saat ini diperdagangkan di atas moving average 50 hari, mencerminkan minat global yang kuat.

Di sisi lain, BEI mengingatkan investor agar tetap berhati-hati dalam meniru strategi perdagangan pihak lain. Data menunjukkan bahwa meskipun banyak investor ritel mengikuti jejak pedagang populer, hanya sekitar 41% yang berhasil mencatatkan keuntungan, sementara sisanya sering terjebak dalam aksi beli saat harga sudah terlanjur tinggi.

Dengan adanya akses melalui anggota bursa resmi, investor diharapkan dapat memperoleh perlindungan dan edukasi yang lebih baik. BEI akan terus mengkaji model yang paling sesuai dengan kebutuhan pasar domestik serta regulasi yang berlaku di tanah air.