JAKARTA – PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR) mencatatkan kinerja keuangan yang prospektif sepanjang paruh pertama tahun 2026. Emiten jalan tol ini berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 1,91 triliun hingga akhir Juni 2026, yang mencerminkan kenaikan 2,01% secara tahunan (year on year/YoY).
Peningkatan laba bersih ini didorong oleh perbaikan kualitas pendapatan inti perusahaan. Meskipun pendapatan secara keseluruhan tercatat turun 6% menjadi Rp 13,11 triliun akibat penurunan kontribusi sektor konstruksi, bisnis utama perseroan yakni pendapatan tol justru tumbuh 6,8% menjadi Rp 9,50 triliun.
Manajemen Jasa Marga mengungkapkan bahwa EBITDA perseroan mencapai Rp 7,0 triliun, tumbuh 8,1% dibanding periode yang sama tahun lalu. Margin EBITDA perseroan tetap terjaga dengan stabil di level 67,8%.
Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menyatakan bahwa capaian EBITDA ini memperkuat kapasitas perseroan dalam menghasilkan arus kas yang solid. Hal tersebut mendukung pemenuhan kewajiban finansial sekaligus agenda investasi dan ekspansi bisnis berkelanjutan.
Analis menilai bahwa pertumbuhan pendapatan tol ditopang oleh penyesuaian tarif serta kontribusi dari Jasamarga Jogja-Solo seksi 1.2A. Ruas tersebut membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar 58% secara tahunan.
Kenaikan trafik dan tarif tol, yang dibarengi dengan efisiensi biaya operasional, mampu memperbaiki margin laba kotor perusahaan. Margin laba kotor naik menjadi sekitar 46,6% dari sebelumnya 40% pada periode yang sama tahun lalu.
Ester Mulyani, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, menjelaskan bahwa penurunan pendapatan konstruksi tidak berdampak signifikan terhadap laba bersih karena margin bisnis tersebut relatif tipis. Sebaliknya, peningkatan porsi pendapatan dari bisnis tol yang memiliki margin lebih tinggi justru memperkuat fundamental perusahaan.
Prospek kinerja Jasa Marga di semester II 2026 diprediksi akan lebih baik dibandingkan paruh pertama. Pertumbuhan akan ditopang oleh lanjutan penyesuaian tarif, peningkatan volume trafik, serta percepatan penyelesaian proyek ruas tol baru.
Sejumlah proyek strategis seperti Jakarta-Cikampek II Selatan, Akses Patimban, hingga ruas Probolinggo-Situbondo-Banyuwangi terus dikembangkan untuk memperluas jaringan. Saat ini, Jasa Marga memiliki total konsesi sekitar 1.736 km dengan 1.294 km di antaranya telah beroperasi.
Di sisi lain, analis mencatat bahwa risiko utama bagi Jasa Marga tetap terletak pada struktur utang dan biaya pendanaan. Hingga Juni 2026, total utang bank bruto tercatat sekitar Rp 73,4 triliun dengan beban bunga mencapai Rp 1,79 triliun.
Kehadiran Danantara dinilai berpotensi menjadi katalis positif bagi perseroan di masa depan. Optimalisasi aset, daur ulang aset (asset recycling), dan efisiensi alokasi modal diharapkan mampu mempercepat proses deleveraging.
Sukarno Alatas, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, memberikan rekomendasi beli untuk saham JSMR dengan target harga Rp 3.850 per saham. Sementara itu, Ester Mulyani merekomendasikan strategi buy on breakout di atas level Rp 3.000 dengan target harga Rp 3.100 hingga Rp 3.200 per saham.





