Valuta

Rupiah Menguat, Simak Proyeksi Nilai Tukar Pekan Depan

58
×

Rupiah Menguat, Simak Proyeksi Nilai Tukar Pekan Depan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di layar monitor
Nilai tukar Rupiah ditutup menguat ke level Rp17.882 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 2 Oktober 2026.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan tren penguatan pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (2/10/2026). Pergerakan mata uang Garuda diprediksi akan terus dipengaruhi oleh dinamika kebijakan moneter domestik serta rilis data ekonomi krusial dari Amerika Serikat pada pekan depan.

Rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,47% ke level Rp 17.882 per dolar AS, dibandingkan penutupan sehari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.966. Secara akumulatif selama sepekan terakhir, mata uang domestik mencatatkan apresiasi sebesar 0,12%.

Kinerja serupa juga terlihat pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR). Rupiah tercatat menguat 0,22% secara harian ke level Rp 17.898 per dolar AS, dengan kenaikan mingguan sebesar 0,1%.

Penguatan ini tidak terlepas dari respons pasar terhadap kebijakan strategis Bank Indonesia (BI). Otoritas moneter tersebut baru saja memperluas instrumen surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter.

Kebijakan ini mencakup penambahan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi ke dalam instrumen operasi moneter. Langkah tersebut bertujuan memberikan fleksibilitas lebih besar bagi perbankan dalam mengelola likuiditas sekaligus menstimulasi transaksi di pasar keuangan.

Kebijakan ini dinilai sebagai bagian dari upaya penguatan operasi moneter yang lebih berorientasi pasar. Integrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) diharapkan dapat memengaruhi pembiayaan dunia usaha secara lebih efektif.

Selain faktor domestik, pelaku pasar kini menanti rilis data nonfarm payrolls (NFP) Amerika Serikat. Data ketenagakerjaan ini menjadi acuan utama bagi investor dalam memprediksi arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).

Proyeksi pasar menunjukkan potensi penambahan lapangan kerja di AS mencapai 90.000 posisi pada September, atau melambat dari angka 162.000 pada Agustus. Sementara itu, tingkat pengangguran diprediksi tetap stabil di kisaran 4,1%.

Data inflasi AS yang melandai belakangan ini telah menekan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Peluang kenaikan suku bunga pada Oktober kini diprediksi hanya berada di level 26%, turun drastis dari angka 69% pada pekan sebelumnya.

Jika data ketenagakerjaan AS mendatang menunjukkan pelemahan, ekspektasi pengetatan moneter oleh The Fed kemungkinan akan semakin berkurang. Kondisi ini dapat memberikan ruang bagi penguatan nilai tukar rupiah lebih lanjut.

Sebaliknya, jika data tenaga kerja AS mencatatkan hasil yang lebih kuat dari perkiraan, tekanan terhadap rupiah berpotensi kembali meningkat. Hal ini dikarenakan adanya risiko pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif dari bank sentral AS.

Berdasarkan dinamika tersebut, nilai tukar rupiah diproyeksikan akan bergerak fluktuatif pada pekan depan. Rentang pergerakan mata uang Garuda diperkirakan berada pada kisaran Rp 17.750 hingga Rp 18.050 per dolar AS.