JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat signifikan pada perdagangan akhir pekan, Jumat (2/10/2026). Mata uang Garuda berhasil terapresiasi sebesar 0,47% ke level Rp 17.882 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi ini menunjukkan perbaikan dibandingkan penutupan perdagangan hari sebelumnya yang berada di level Rp 17.966 per dolar AS. Secara akumulatif, rupiah mencatatkan penguatan sebesar 0,12% dalam periode satu pekan terakhir.
Tren penguatan rupiah terjadi di tengah sentimen positif yang menyelimuti mayoritas mata uang di kawasan Asia. Hampir seluruh mata uang Asia terpantau menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini.
Won Korea memimpin daftar penguatan mata uang Asia dengan apresiasi sebesar 0,87%. Dolar Taiwan menyusul di posisi kedua dengan kenaikan 0,48%.
Rupiah berada tepat di bawah dolar Taiwan dengan penguatan 0,47%. Sementara itu, peso Filipina dan baht Thailand masing-masing menguat sebesar 0,40% dan 0,38%.
Mata uang lainnya di Asia juga menunjukkan performa serupa. Yen Jepang menguat 0,34%, dolar Singapura naik 0,17%, dan ringgit Malaysia mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,04%.
Dolar Hong Kong menjadi satu-satunya mata uang di kawasan Asia yang berada di zona merah. Nilai tukar tersebut tercatat melemah tipis sebesar 0,006% terhadap dolar AS pada sore hari ini.
Kondisi ini sejalan dengan pergerakan indeks dolar AS yang cenderung melandai. Indeks dolar yang mengukur nilai tukar mata uang Paman Sam terhadap mata uang utama dunia berada di level 101,86.
Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan posisi pada hari sebelumnya yang sempat berada di level 102,09. Pelemahan indeks dolar ini menjadi katalis utama bagi mata uang regional untuk melakukan koreksi ke atas.
Para analis pasar melihat dinamika ini sebagai respons pasar terhadap sentimen global yang memengaruhi kebijakan moneter di berbagai negara. Stabilitas rupiah pada akhir pekan ini memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar domestik.
Dengan ditutupnya perdagangan hari ini, pelaku pasar kini menunggu perkembangan data ekonomi global yang mungkin memengaruhi arah kebijakan bank sentral ke depan. Fokus utama tetap tertuju pada volatilitas nilai tukar yang dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga global.
Pemerintah dan otoritas moneter terus memantau pergerakan nilai tukar guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. Hingga penutupan pasar, arus modal masuk diperkirakan masih menjadi faktor pendukung penguatan mata uang kawasan, termasuk rupiah terhadap dolar AS.






