Bursa Saham

IHSG Melemah ke 5.990 di Sesi Pertama, Saham Blue Chip Tertekan

30
×

IHSG Melemah ke 5.990 di Sesi Pertama, Saham Blue Chip Tertekan

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar monitor yang menunjukkan grafik penurunan Indeks Harga Saham Gabungan di bursa efek
IHSG melemah 0,32% ke level 5.990 pada perdagangan sesi pertama, Jumat (2/10/2026).

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan pelemahan pada perdagangan sesi pertama hari ini, Jumat (2/10/2026). Indeks terkoreksi 0,32% atau 19,302 poin ke level 5.990,200 di tengah kondisi pasar yang bergerak volatil.

Data RTI menunjukkan sebanyak 404 saham mengalami penurunan nilai. Sementara itu, 230 saham tercatat menguat dan 151 saham lainnya stagnan.

Aktivitas perdagangan pada sesi pertama ini mencatatkan volume sebesar 80,4 miliar saham. Adapun total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp6,3 triliun.

Tekanan pada IHSG tercermin dari kinerja mayoritas indeks sektoral. Sebanyak 10 indeks sektoral terpantau berada di zona merah.

IDX Transportation memimpin pelemahan dengan koreksi sebesar 1,55%. Sektor IDX Industry menyusul dengan penurunan 1,12% dan IDX Infrastructure terkoreksi 1,10%.

Di jajaran saham LQ45, PT Solusi Sinerga Digital Tbk (WIFI) menjadi pemimpin daftar top losers dengan penurunan 11,15% ke level Rp1.435. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) menyusul dengan pelemahan 4,58% menjadi Rp4.170.

Selain itu, saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) juga tertekan sebesar 4,25% ke posisi Rp1.240. Di sisi lain, beberapa saham masih mampu mencatatkan penguatan signifikan.

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 3,61% ke level Rp3.160. Saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) menguat 3,10% menjadi Rp1.495 dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) naik 2,24% ke Rp11.400.

Pelemahan IHSG ini sejalan dengan tren negatif di bursa saham Asia. Investor cenderung bersikap hati-hati menjelang rilis data tenaga kerja Amerika Serikat (AS).

Data tersebut diprediksi akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve ke depan. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terpantau turun 0,5% pada perdagangan hari ini.

Pasar juga mencermati pergerakan imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun. Sempat menyentuh 5,34%, yield tersebut kini berada di kisaran 5,25%.

Dari sisi domestik, pasar merespons sejumlah indikator makroekonomi yang menunjukkan sinyal beragam. Surplus neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar US$3,55 miliar.

Namun, laju inflasi September 2026 yang mencapai 3,28% secara tahunan (year on year) memberikan tekanan harga domestik. Sentimen pasar juga sempat dibayangi ketidakpastian politik pasca-reshuffle Kabinet Merah Putih.

Selain itu, pelaku pasar tengah mencermati implementasi mekanisme short selling di pasar modal Indonesia. Kebijakan ini dinilai berpotensi menambah dinamika transaksi saham ke depannya.

Investor saat ini tetap memusatkan perhatian pada rilis data nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan keluar hari ini. Data tenaga kerja tersebut menjadi indikator krusial bagi pasar keuangan global dalam membaca kebijakan moneter The Fed.