JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan terus bergerak fluktuatif hingga akhir pekan ini. Sentimen utama pasar saat ini dipengaruhi oleh penyesuaian aturan batas harga minimum saham menjadi Rp1 dan penerapan regulasi baru di papan pemantauan khusus.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyatakan bahwa level support terdekat IHSG saat ini berada di angka 6.100. Sementara itu, area 6.000 hingga 6.050 ditetapkan sebagai support psikologis utama bagi pergerakan indeks.
Meskipun terdapat risiko IHSG menembus ke bawah level 6.000, hal tersebut bukan menjadi skenario dasar. Tekanan pasar saat ini dinilai lebih bersifat mekanis dan terkonsentrasi pada saham-saham berharga rendah, bukan pada emiten berkapitalisasi besar.
Wafi memproyeksikan periode volatilitas tinggi ini akan berlangsung selama dua hingga empat pekan ke depan. Kondisi pasar diperkirakan baru akan berangsur mereda setelah proses penyesuaian harga saham selesai.
Gelombang awal penyesuaian pasar dipicu oleh aksi keluar pemegang saham lama yang sebelumnya terkunci pada harga minimum Rp50. Dampaknya terlihat pada sesi perdagangan Selasa (29/9/2026), di mana IHSG tercatat melemah 0,21% ke level 6.135.
Proses penyesuaian ini berpotensi berlangsung lebih panjang karena batas auto rejection asimetris sebesar 15% masih berlaku hingga 31 Desember 2026. Aturan tersebut baru akan berubah menjadi simetris mulai 1 Januari 2027.
Terkait saham dengan rentang harga Rp1 hingga Rp10, batas auto rejection atas dan bawah ditetapkan sebesar Rp1. Secara persentase, batas tersebut dinilai cukup besar dan berpotensi memicu pergerakan harga harian yang ekstrem.
Untuk pergerakan hingga akhir pekan, IHSG diprediksi berada di kisaran 6.100-6.250 dengan bias melemah. Sementara untuk akhir tahun 2026, target indeks dipertahankan di kisaran 6.000-6.500 dengan memperhatikan hasil evaluasi MSCI pada November mendatang.
Wafi menjelaskan bahwa IHSG berpeluang naik ke level 6.700-7.000 jika MSCI mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market. Sebaliknya, terdapat risiko penurunan ke level 5.400-5.600 jika pasar beralih ke status frontier.
Investor disarankan untuk mencermati emiten berkapitalisasi besar yang memiliki fundamental kuat. Sektor komoditas menjadi pilihan menarik karena didukung oleh harga komoditas yang tinggi serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Beberapa saham yang dapat diperhatikan meliputi PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA), PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG).
Selain komoditas, sektor perbankan dengan dominasi dana murah atau current account saving account (CASA) dianggap relatif tahan terhadap guncangan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi pilihan utama di sektor ini.
Untuk sektor konsumer, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dinilai sebagai saham defensif yang layak dicermati. Di sisi lain, investor diingatkan untuk tetap berhati-hati terhadap saham dengan harga nominal rendah yang tidak didukung oleh fundamental yang kuat.






