Valuta

Dolar AS Menguat, Rupiah Berpotensi Tertekan di Awal Pekan

53
×

Dolar AS Menguat, Rupiah Berpotensi Tertekan di Awal Pekan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi grafik pergerakan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang fluktuatif
Nilai tukar rupiah diprediksi bergerak fluktuatif akibat penguatan indeks dolar AS pada awal pekan.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi akan bergerak fluktuatif dengan potensi tekanan pada perdagangan awal pekan, Senin (28/9/2026). Sentimen penguatan indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang masih bertahan di level 100 menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang Garuda.

Berdasarkan data perdagangan akhir pekan lalu, indeks dolar AS (DXY) tercatat berada di level 100,971. Meskipun secara harian sempat melemah tipis 0,31%, indeks tersebut masih mencatatkan penguatan mingguan sebesar 0,75%.

Kondisi tersebut membuat rupiah berada dalam posisi rentan. Pada penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026), mata uang domestik sempat menguat tipis 0,07% ke level Rp17.902 per dolar AS di pasar spot.

Namun, data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia menunjukkan hasil berbeda. Rupiah tercatat berada di level Rp17.917 per dolar AS, melemah sekitar 0,11% dibandingkan posisi sebelumnya di level Rp17.898 per dolar AS.

Ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed, terus menjadi perhatian utama pelaku pasar. Para pejabat Federal Reserve memberikan sinyal kuat mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan sebelum akhir tahun.

Pernyataan Presiden The Fed wilayah New York, John Williams, mengenai kewajaran kenaikan suku bunga turut memperkuat posisi dolar AS. Sentimen ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan global, termasuk bagi mata uang negara berkembang.

Selain faktor moneter, eskalasi konflik antara AS dan Iran juga menjadi variabel penentu di pasar global. Saat ini, negosiator kedua negara tengah menjajaki opsi pembukaan kembali Selat Hormuz sebagai bagian dari penyelesaian konflik bertahap.

Upaya tersebut dikaitkan dengan rencana Washington untuk mencabut blokade ekonomi terhadap Teheran. Perkembangan ini secara langsung memengaruhi volatilitas harga minyak mentah dunia dan ekspektasi inflasi global.

Fluktuasi harga komoditas energi tersebut berpotensi memberikan dampak turunan terhadap nilai tukar rupiah. Investor kini lebih berhati-hati dalam menempatkan modal di pasar emerging market hingga ada kepastian geopolitik.

Menjelang perdagangan Senin (28/9/2026), rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS. Tekanan eksternal yang kuat membuat ruang gerak penguatan mata uang domestik menjadi sangat terbatas.

Sebelumnya, rupiah sempat mencatatkan pelemahan yang cukup dalam sepanjang pekan lalu. Mata uang Asia ini bahkan sempat menyentuh level di atas Rp17.930 per dolar AS akibat lonjakan yield atau imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Kenaikan imbal hasil US Treasury 10 tahun yang menembus level 5% menjadi salah satu pemicu utama pelarian modal. Kondisi ini membuat dolar AS menjadi aset yang lebih menarik dibandingkan mata uang berisiko lainnya.

Pelaku pasar kini menanti langkah kebijakan lebih lanjut dari otoritas moneter domestik dalam merespons tekanan eksternal tersebut. Stabilitas nilai tukar menjadi fokus utama di tengah bayang-bayang level psikologis Rp18.000 per dolar AS.