Valuta

Rupiah Melemah ke Rp17.916, Simak Proyeksi Pergerakan Hari Ini

34
×

Rupiah Melemah ke Rp17.916, Simak Proyeksi Pergerakan Hari Ini

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat di layar monitor
Nilai tukar rupiah diprediksi kembali melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat, 25 September 2026.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diprediksi kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan hari ini, Jumat (25/9/2026), dengan proyeksi pergerakan di kisaran Rp17.910 hingga Rp18.000 per dolar Amerika Serikat. Sentimen eksternal yang kuat, terutama penguatan dolar AS dan fluktuasi harga komoditas, menjadi pemicu utama pelemahan mata uang Garuda.

Pada penutupan perdagangan Kamis (24/9/2026), rupiah di pasar spot tercatat melemah 0,55% ke level Rp17.916 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) juga mengalami koreksi sebesar 0,53% ke posisi Rp17.898 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang domestik dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia yang bertahan di atas level US$100 per barel. Tingginya tensi geopolitik global menjadi faktor utama yang menjaga harga energi tetap berada di level tinggi.

Selain faktor energi, fenomena El Nino turut menambah risiko ekonomi nasional. Kondisi cuaca ini berpotensi mengganggu rantai pasok pangan dan produksi domestik secara luas.

Sejumlah indikator ekonomi yang akan dirilis pada awal Oktober mendatang kini menjadi sorotan pasar. Neraca perdagangan Indonesia diprediksi berpotensi mencatat defisit pada Agustus, setelah sebelumnya sempat mencatatkan surplus.

Laju inflasi pada Agustus juga diperkirakan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Selain itu, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur untuk bulan September diproyeksikan masih akan berkutat di zona kontraksi.

Cadangan devisa nasional juga dinilai berisiko menyusut akibat langkah intervensi Bank Indonesia di pasar Non-Deliverable Forward (NDF). Indeks keyakinan konsumen pun diperkirakan mengalami penurunan dibandingkan periode Agustus.

Terkait kebijakan moneter, Bank Indonesia sebelumnya memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Keputusan ini diambil saat bank sentral menghadapi tekanan eksternal yang masif.

Para ekonom menilai keputusan tersebut bisa menjadi jeda sementara di tengah ketidakpastian global. Risiko kenaikan imbal hasil obligasi global dan fluktuasi harga minyak menuntut kewaspadaan lebih lanjut.

Bank Indonesia diharapkan dapat menjaga stabilitas agar pelemahan rupiah tidak memicu inflasi yang lebih persisten. Upaya menjaga mata uang di tengah tekanan regional menjadi prioritas utama.

Di sisi lain, pasar global kini tertuju pada arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober tercatat meningkat signifikan mencapai 69,7%.

Kenaikan ekspektasi suku bunga tersebut memperkuat posisi dolar AS di pasar mata uang dunia. Hal ini secara otomatis memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

Kondisi ekonomi sepanjang September 2026 memang diwarnai berbagai tantangan, termasuk penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang terjadi awal bulan ini. Dinamika pasar yang volatil menuntut pelaku pasar untuk terus mencermati sentimen global dan data ekonomi domestik terkini.