JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali mencatatkan kinerja negatif pada perdagangan hari ini, Jumat (18/9/2026). Mata uang Garuda ditutup di level Rp 17.758 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan ini mengonfirmasi tren negatif yang terus berlanjut dalam tujuh sesi perdagangan berturut-turut. Rupiah tercatat melemah tipis sebesar 0,03% dibandingkan penutupan perdagangan pada hari sebelumnya yang berada di posisi Rp 17.753 per dolar AS.
Kondisi pasar keuangan di kawasan Asia terpantau bergerak variatif sepanjang hari ini. Mayoritas mata uang regional mengalami tekanan di tengah ketidakpastian sentimen global yang memengaruhi arus modal.
Yen Jepang tercatat mengalami koreksi paling dalam di antara mata uang Asia lainnya, yakni anjlok sebesar 1,03%. Tekanan serupa juga dialami oleh won Korea Selatan yang melemah 0,29%.
Sentimen negatif juga membayangi mata uang kawasan Asia Tenggara lainnya. Dolar Singapura terkoreksi 0,1%, sementara peso Filipina melemah tipis 0,05%.
Baht Thailand turut mencatatkan pelemahan sebesar 0,04% terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan sore ini. Pergerakan ini menunjukkan bahwa mata uang regional masih menghadapi tantangan berat akibat penguatan dolar AS secara global.
Di sisi lain, beberapa mata uang di Asia berhasil mencatatkan penguatan di tengah arus koreksi yang terjadi. Ringgit Malaysia menjadi pemimpin penguatan dengan apresiasi sebesar 0,44% terhadap dolar AS.
Dolar Taiwan menyusul dengan kenaikan sebesar 0,22% pada penutupan sesi perdagangan hari ini. Yuan China juga terpantau menguat 0,11% di tengah dinamika pasar yang masih terus berubah.
Rupee India turut mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,04%. Selain itu, dolar Hong Kong mencatatkan penguatan marjinal sebesar 0,02% terhadap mata uang Amerika Serikat tersebut.
Pelemahan tujuh hari beruntun yang dialami rupiah mencerminkan adanya tekanan jual yang konsisten dari pelaku pasar. Ketahanan mata uang domestik saat ini tengah diuji oleh sentimen eksternal yang cukup dominan.
Para pelaku pasar kini menanti arah kebijakan moneter lebih lanjut yang dapat memengaruhi stabilitas nilai tukar ke depan. Volatilitas di pasar spot diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, dinamika mata uang di kawasan Asia pada perdagangan hari ini menunjukkan adanya divergensi kebijakan dan sentimen ekonomi di masing-masing negara. Investor tetap bersikap waspada terhadap setiap perubahan data ekonomi global yang dirilis.
Kondisi likuiditas di pasar spot terpantau tetap terjaga meski tekanan terhadap rupiah masih terasa. Bank sentral diperkirakan terus memantau pergerakan ini untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar tidak berfluktuasi terlalu tajam.




