Valuta

Rupiah Melemah Tipis ke Level Rp 17.699 per Dolar AS Siang Ini

35
×

Rupiah Melemah Tipis ke Level Rp 17.699 per Dolar AS Siang Ini

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar AS di layar monitor perdagangan pasar spot
Nilai tukar rupiah melemah tipis ke level Rp 17.699 per dolar AS pada perdagangan Rabu (16/9/2026).

JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot menunjukkan pelemahan tipis pada perdagangan Rabu (16/9/2026). Hingga pukul 12.11 WIB, mata uang Garuda berada di level Rp 17.699 per dolar Amerika Serikat (AS).

Posisi tersebut mencatatkan depresiasi sebesar 0,03% dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.694 per dolar AS. Pergerakan rupiah ini terjadi di tengah dinamika pasar keuangan regional yang cenderung bervariasi.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang justru mencatatkan penguatan terhadap dolar AS pada siang hari ini. Dolar Taiwan memimpin penguatan dengan apresiasi sebesar 0,34%.

Selain itu, ringgit Malaysia menguat 0,25% dan peso Filipina naik 0,11%. Baht Thailand, yuan China, dan rupee India masing-masing mencatatkan penguatan sebesar 0,04%, 0,03%, dan 0,03%.

Dolar Hong Kong juga berada di zona hijau dengan penguatan tipis sebesar 0,01% terhadap dolar AS. Sebaliknya, beberapa mata uang Asia lainnya senasib dengan rupiah yang mengalami tekanan.

Yen Jepang tercatat melemah 0,13% dan won Korea terkoreksi 0,09%. Dolar Singapura juga terpantau melemah tipis sebesar 0,02% terhadap mata uang Paman Sam.

Indeks dolar, yang mengukur kekuatan mata uang AS terhadap sekeranjang mata uang utama dunia, berada di posisi 99,63. Angka ini menunjukkan kenaikan dibandingkan posisi hari sebelumnya yang berada di level 99,61.

Di sisi lain, pasar modal Indonesia menunjukkan pergerakan yang kontradiktif terhadap pasar mata uang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil menguat 0,36% ke level 6.484 pada perdagangan sesi pertama hari ini.

Kinerja positif di bursa saham ini salah satunya didorong oleh kebangkitan saham PT Summarecon Agung Tbk (SMRA). Saham emiten properti tersebut kembali menguat setelah sempat mengalami tekanan pasar menyusul kabar penangkapan presiden direkturnya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Penangkapan tersebut terkait dengan dugaan tindak pidana korupsi di lingkungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Pihak manajemen PT Summarecon Agung Tbk telah memberikan tanggapan resmi terkait insiden hukum yang melibatkan jajaran direksinya tersebut.

Hingga saat ini, pelaku pasar masih memantau perkembangan situasi politik dan hukum yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan domestik. Sentimen global mengenai kebijakan moneter AS juga terus menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan mata uang di Asia, termasuk rupiah.

Investor cenderung bersikap hati-hati dalam merespons fluktuasi nilai tukar yang masih berada di bawah tekanan indeks dolar. Stabilitas Rupiah ke depan diperkirakan akan sangat bergantung pada respons pasar terhadap data ekonomi makro serta perkembangan kebijakan suku bunga acuan.