Energi

Rusal Asal Rusia Bangun Pabrik Hilirisasi Bauksit di Kalimantan

52
×

Rusal Asal Rusia Bangun Pabrik Hilirisasi Bauksit di Kalimantan

Sebarkan artikel ini
Pabrik pengolahan bauksit milik perusahaan Rusia UC Rusal di Kalimantan
Perusahaan asal Rusia, UC Rusal, segera merealisasikan pembangunan pabrik hilirisasi bauksit di Kalimantan.

JAKARTA – Pemerintah Indonesia memastikan perusahaan aluminium raksasa asal Rusia, United Company Rusal (UC Rusal), akan segera merealisasikan pembangunan fasilitas hilirisasi bauksit menjadi alumina di wilayah Kalimantan. Proyek strategis ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mempercepat agenda hilirisasi tambang nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa proses perizinan untuk investasi tersebut kini telah memasuki tahap final. Rusal diketahui menjalin kolaborasi strategis dengan pengusaha lokal dalam negeri untuk memuluskan pembangunan pabrik tersebut.

Meski perizinan hampir rampung, Bahlil belum bersedia merinci nilai investasi yang akan digelontorkan oleh pihak Rusia. Ia menegaskan bahwa besaran angka investasi baru akan diumumkan setelah studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) proyek tersebut dinyatakan selesai.

Rencana masuknya Rusal ke Indonesia pertama kali diungkapkan secara resmi oleh Presiden Prabowo Subianto. Pernyataan tersebut disampaikan Presiden dalam forum Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Rusia, pada awal September 2026.

Presiden Prabowo menyatakan bahwa Rusal akan masuk dalam skala besar untuk mengembangkan kilang bersama kelompok usaha asal Indonesia. Pemerintah Indonesia pun terus membuka peluang bagi perusahaan Rusia lainnya untuk memperluas kerja sama di berbagai sektor industri.

Langkah Rusal untuk menanamkan modal di Indonesia sebenarnya bukan merupakan gagasan baru. Penjajakan rencana pendirian pabrik pengolahan bauksit oleh perusahaan asal Rusia ini sudah pernah bergulir sejak tahun 2014 silam.

Pada masa tersebut, Rusal telah berupaya mencari mitra lokal untuk mengamankan pasokan bauksit sebagai bahan baku utama alumina. Namun, rencana investasi tersebut sempat terhambat oleh dinamika ekonomi global yang terjadi kala itu.

Menteri Perindustrian periode 2014, MS Hidayat, sempat mengungkapkan bahwa Rusal memerlukan waktu untuk mengkaji potensi sumber bauksit sebelum memutuskan nilai investasi. Pihak perusahaan pun sempat meminta maaf atas tertundanya tindak lanjut kesepakatan akibat kendala eksternal.

Kini, dengan komitmen baru yang didorong melalui kolaborasi pemerintah dan pihak swasta, proyek hilirisasi ini diproyeksikan akan berjalan lebih konkret. Fokus utama pemerintah saat ini adalah memastikan seluruh persyaratan administratif segera terpenuhi agar pembangunan fisik dapat segera dimulai.

Hilirisasi bauksit menjadi alumina dianggap krusial bagi Indonesia untuk meningkatkan nilai tambah komoditas mineral. Kebijakan ini sejalan dengan strategi nasional dalam mengurangi ekspor bahan mentah dan mendorong industrialisasi di dalam negeri.

Pembangunan pabrik di Kalimantan ini juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja lokal serta memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah. Pemerintah terus memantau perkembangan proses perizinan agar target hilirisasi yang dicanangkan dapat tercapai sesuai jadwal yang direncanakan.