Bursa Saham

Sentimen FOMC dan Rebalancing FTSE Picu Volatilitas IHSG Pekan Ini

53
×

Sentimen FOMC dan Rebalancing FTSE Picu Volatilitas IHSG Pekan Ini

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar pergerakan grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di pasar modal Indonesia.
IHSG diproyeksikan bergerak volatil pekan ini dipengaruhi sentimen FOMC dan rebalancing indeks FTSE.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan bergerak volatil pada pekan perdagangan 14–18 September 2026. Pergerakan pasar akan dipengaruhi oleh dua agenda besar, yakni pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) dan proses rebalancing indeks FTSE.

Pertemuan FOMC yang dijadwalkan berlangsung pada 16 September waktu Amerika Serikat menjadi sorotan utama pelaku pasar. Keputusan terkait arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat ini dinilai memiliki dampak signifikan terhadap arus modal global, termasuk pasar saham Indonesia.

Di sisi lain, agenda rebalancing FTSE Russell juga menjadi perhatian investor. Proses penyesuaian indeks ini ditetapkan pada Jumat, 18 September 2026 berdasarkan harga penutupan, dan akan berlaku efektif pada Senin, 21 September 2026.

Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa ruang kenaikan indeks saat ini mulai terbatas. Pasar diperkirakan akan bergerak lebih selektif menyusul penguatan signifikan yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Rully memproyeksikan IHSG akan berada di kisaran level 6.300 hingga 6.800 sepanjang pekan depan. Hingga akhir tahun 2026, ia memperkirakan indeks berpeluang menyentuh rentang 6.700–6.900, meski kenaikannya tidak akan berjalan linear.

Sementara itu, Co-Founder Alphagate Capital, Henry Wibowo, menilai IHSG telah memasuki fase bull market setelah mencatatkan pemulihan lebih dari 20% sejak Juni 2026. Ia optimistis momentum positif ini dapat berlanjut meski volatilitas jangka pendek tetap membayangi.

Henry memprediksi IHSG akan bergerak di kisaran 6.400–6.600 pada pekan depan. Dalam jangka panjang, ia melihat potensi indeks kembali menuju level 7.000 pada akhir tahun 2026.

Faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan pasar ke depan meliputi arah suku bunga global, yield US Treasury, dan pergerakan nilai tukar rupiah. Stabilitas rupiah dinilai memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, arus dana asing atau foreign flow menjadi indikator penting yang harus dicermati. Rotasi dana antara saham perbankan berkapitalisasi besar, sektor komoditas, dan saham siklikal masih menjadi pola yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.

Sentimen lain yang dinanti pasar adalah pengumuman MSCI pada November 2026. Investor berharap MSCI dapat mencabut pembekuan penambahan saham Indonesia ke dalam indeksnya, yang berpotensi membuka peluang baru bagi pasar modal domestik.

Reformasi pasar modal yang dilakukan regulator, termasuk rencana penghapusan batas harga minimum Rp 50 per saham, juga menjadi perhatian. Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pembentukan harga dan likuiditas perdagangan.

Keberlanjutan penguatan IHSG ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi stabilitas makroekonomi, penguatan rupiah, serta konsistensi kebijakan fiskal pemerintah. Disiplin fiskal yang terjaga akan menjadi faktor kunci dalam mempertahankan kepercayaan investor terhadap pasar domestik.