Bursa Saham

Wall Street Bangkit, Investor Waspadai Kebijakan Suku Bunga The Fed

54
×

Wall Street Bangkit, Investor Waspadai Kebijakan Suku Bunga The Fed

Sebarkan artikel ini
Layar elektronik menampilkan grafik kenaikan indeks saham di bursa Wall Street, New York.
Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan penguatan signifikan di tengah bayang-bayang kebijakan suku bunga The Fed.

NEW YORK – Bursa saham Amerika Serikat mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Jumat (11/9/2026), dipicu oleh penurunan harga minyak mentah yang memberikan sentimen positif bagi investor. Meski demikian, bayang-bayang inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) tetap menjadi ancaman serius bagi stabilitas pasar ke depan.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 530,49 poin atau 1,02% ke level 52.593,73. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 79,68 poin atau 1,05% menjadi 7.671,38 dan Nasdaq Composite melonjak 318,32 poin atau 1,22% ke posisi 26.400,04.

Pemulihan pasar ini terjadi setelah indeks utama sempat berada dalam tekanan berat sepanjang pekan akibat tingginya imbal hasil US Treasury dan memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah. Analis dari Ingenium Analytics, Andre Bakhos, menilai pergerakan ini merupakan aksi teknikal setelah pasar sempat berada dalam kondisi jenuh jual atau oversold.

Namun, optimisme pelaku pasar tertahan oleh data Indeks Harga Konsumen (CPI) Agustus yang naik 0,4%. Secara tahunan, inflasi konsumen AS tercatat bertahan di level 3,4%, angka yang memicu kekhawatiran bahwa tekanan harga belum mereda.

Data tersebut diperkuat oleh rilis indeks harga produsen (PPI) yang melampaui ekspektasi analis sehari sebelumnya. Kondisi ini meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan mendatang hingga mencapai 87% berdasarkan data CME FedWatch Tool.

Kepala Investasi Bokeh Capital Partners, Kim Forrest, menyebut bahwa penguatan saham pada Jumat merupakan reaksi wajar setelah penurunan tajam pada Kamis. Menurutnya, pasar tidak serta merta meninggalkan aset berisiko meski tantangan kebijakan moneter masih membayangi.

Di sisi lain, penurunan harga minyak mentah dunia menjadi katalis pendukung utama bagi kenaikan bursa. Harga minyak Brent terpantau turun sekitar 3% ke level US$104 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga melemah ke kisaran US$100 per barel.

Sektor teknologi dan jasa komunikasi mencatatkan performa terbaik dengan sepuluh dari sebelas sektor utama S&P 500 berakhir di zona hijau. Saham Dell Technologies menjadi sorotan setelah melonjak lebih dari 11% hingga mencapai rekor harga tertinggi baru.

Kinerja positif juga ditunjukkan oleh Hewlett Packard Enterprise yang menguat hampir 10% dan HP Inc. yang naik 7%. Sentimen ini didorong oleh laporan keuangan Oracle yang melampaui ekspektasi, sekaligus meredam keraguan investor terhadap efisiensi investasi perusahaan di sektor kecerdasan buatan atau AI.

Selain itu, saham ACV Auctions melesat 44% pasca kesepakatan akuisisi oleh Copart senilai US$1,9 miliar. Meski terjadi penguatan di akhir pekan, indeks volatilitas CBOE atau VIX tetap berada di posisi 15,76, menunjukkan kewaspadaan pelaku pasar masih cukup tinggi.

Secara mingguan, tekanan jual masih membayangi Wall Street. Indeks Dow Jones tercatat berada di jalur penurunan mingguan terdalam sejak Maret, sementara S&P 500 dan Nasdaq berisiko memutus tren kenaikan dua pekan berturut-turut.