Investasi

Refinancing Utang Jadi Pendorong Utama Pasar Obligasi Korporasi Kuartal IV 2026

30
×

Refinancing Utang Jadi Pendorong Utama Pasar Obligasi Korporasi Kuartal IV 2026

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan pasar obligasi korporasi Indonesia dengan latar belakang gedung perkantoran di Jakarta
Kebutuhan refinancing utang diproyeksikan menjadi motor utama penggerak pasar obligasi korporasi pada kuartal IV 2026.

JAKARTA – Kebutuhan refinancing atau pembiayaan kembali utang diproyeksikan menjadi motor utama penggerak pasar obligasi korporasi di Indonesia pada kuartal IV 2026. Meski dihadapkan pada tingkat suku bunga yang relatif tinggi, emiten tetap mengandalkan instrumen surat utang untuk memenuhi kewajiban jatuh tempo serta membiayai kebutuhan operasional dan investasi.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mencatat total penerbitan surat utang korporasi hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp120,18 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 14,54% secara tahunan (YoY) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp140,64 triliun.

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyatakan bahwa karakter pasar pada kuartal IV 2026 akan berbeda dibandingkan awal tahun. Emiten kini tidak lagi masuk ke pasar dengan ekspektasi penurunan suku bunga yang agresif.

Tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI) yang berada di level 5,75% serta yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun di kisaran 7,09% menjaga biaya pendanaan tetap tinggi. Kondisi ini membuat penerbitan obligasi lebih difokuskan pada pemenuhan utang jatuh tempo.

Volume jatuh tempo utang pada periode Oktober hingga Desember 2026 diperkirakan mencapai Rp43 triliun. Selain itu, kebutuhan modal kerja dan belanja modal yang sempat tertunda sepanjang tahun ini diprediksi akan mulai direalisasikan pada akhir tahun.

Aktivitas penerbitan obligasi korporasi pada kuartal IV 2026 diperkirakan akan lebih ramai dibandingkan kuartal II. Namun, investor diprediksi tetap bersikap selektif dalam menyerap instrumen yang ditawarkan di pasar.

Lembaga pembiayaan infrastruktur dengan kualitas kredit tinggi seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) tetap menjadi pilihan utama. Selain itu, perbankan dengan neraca kuat serta emiten sektor energi dan pulp kertas yang memiliki arus kas solid dinilai masih memiliki daya tarik tinggi.

Sektor multifinance juga diperkirakan tetap menjadi kelompok penerbit penting karena kebutuhan refinancing yang rutin. Meski demikian, volume penerbitan dari sektor ini telah terkonsentrasi pada pemain-pemain besar dengan penurunan volume secara tahunan.

Di sisi lain, investor diimbau untuk lebih berhati-hati terhadap emiten konstruksi BUMN yang masih menjalani proses penyehatan. Pasar kini semakin mampu membedakan antara kebutuhan refinancing yang bersifat normal dengan pendanaan yang berkaitan langsung dengan restrukturisasi.

Terkait kupon obligasi, SBN tetap menjadi acuan utama investor sebelum memperhitungkan premi risiko kredit. Saat ini, yield obligasi korporasi AAA tenor tiga tahun berada di kisaran 7,41%, AA di level 7,64%, dan A sebesar 8,46%.

Investor ritel disarankan menerapkan strategi investasi pada obligasi dengan tenor pendek hingga menengah, yakni satu hingga tiga tahun. Strategi ini dinilai mampu memberikan kupon kompetitif sekaligus membatasi risiko durasi di tengah ketidakpastian kebijakan moneter.