JAKARTA – PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dikabarkan tengah menjajaki rencana penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) di Bursa Hong Kong dengan target perolehan dana segar sedikitnya US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 17,61 triliun. Langkah strategis ini ditempuh perusahaan untuk memperkuat posisi permodalan di pasar global.
Berdasarkan laporan terkini per Jumat (11/9), Amman Mineral disebut telah menggandeng Citic Securities Co. dan Morgan Stanley sebagai penasihat dalam persiapan aksi korporasi tersebut. Rencana tersebut diproyeksikan dapat terealisasi paling cepat pada tahun 2027 mendatang.
Meski demikian, detail mengenai besaran dana dan jadwal pasti penawaran masih bersifat dinamis. Pihak Amman Mineral, CLSA, maupun Morgan Stanley hingga saat ini belum memberikan pernyataan resmi terkait kabar tersebut.
Langkah Amman Mineral ini sejalan dengan upaya Bursa Hong Kong untuk mendiversifikasi basis emitennya di luar perusahaan asal Cina daratan. Jika terealisasi, AMMN akan mengikuti jejak PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang telah melantai di Bursa Hong Kong pada Juni 2026.
Sebelumnya, Komisaris Utama Amman Mineral, Agoes Projosasmito, sempat menyatakan bahwa perusahaan belum memiliki rencana ekspansi lanjutan saat dikonfirmasi pada Juli lalu. Pernyataan tersebut disampaikan singkat di tengah dinamika pasar yang terus berkembang.
Sebagai catatan, AMMN sebelumnya sukses mencatatkan diri di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juli 2023. Saat itu, perusahaan menerbitkan 6,32 miliar saham atau setara 8,8% dari total modal disetor ke publik.
Penawaran umum perdana tersebut mencatatkan nilai sebesar Rp 10,73 triliun dengan harga Rp 1.695 per saham. Angka tersebut menjadikan IPO AMMN sebagai yang terbesar di pasar modal Indonesia sepanjang tahun 2023.
Tingginya antusiasme investor kala itu terbukti dengan terjadinya oversubscription pada porsi penjatahan terpusat hingga 13,6 kali. Kondisi ini memaksa perusahaan meningkatkan alokasi porsi pooling dari 2,5% menjadi 7,5% untuk mengakomodasi lebih dari 27.000 investor.
Proses IPO di BEI tersebut didukung oleh konsorsium penjamin pelaksana emisi efek yang terdiri dari PT BNI Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia, dan PT Mandiri Sekuritas. Pengalaman dalam aksi korporasi domestik ini dinilai menjadi modal penting bagi perusahaan dalam menjajaki pasar internasional.
Wacana ekspansi Amman Mineral di pasar luar negeri mencerminkan tren korporasi Indonesia yang semakin agresif dalam mencari pendanaan global. Fenomena serupa juga terlihat pada emiten lain seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang baru-baru ini mengakuisisi Laman Mining senilai Rp 1 triliun melalui dukungan pendanaan dari Glencore.
Kehadiran perusahaan Indonesia di Bursa Hong Kong dipandang sebagai langkah krusial untuk meningkatkan daya tawar di mata investor global. Konsolidasi aset dan diversifikasi sumber pendanaan menjadi fokus utama emiten besar dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.






