JAKARTA – Pasar obligasi pemerintah di kawasan Asia Tenggara kini tengah menghadapi tekanan signifikan seiring dengan menurunnya minat investor terhadap lelang surat utang di sejumlah negara regional. Fenomena ini ditandai dengan melemahnya angka bid-to-cover ratio pada lelang obligasi di Malaysia, Thailand, Filipina, hingga Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Di Indonesia, lelang obligasi konvensional pekan lalu mencatatkan total penawaran sebesar Rp 66 triliun atau setara US$ 3,77 miliar. Angka tersebut merupakan level terendah sejak lelang yang berlangsung pada 7 Juli lalu.
Tren serupa juga terjadi di negara tetangga. Lelang obligasi Malaysia tenor 2046 pada akhir Agustus mencatat bid-to-cover sebesar 1,63 kali, level terendah kedua sepanjang tahun 2026. Sementara itu, Thailand mencatat bid-to-cover 1,13 kali untuk obligasi 10 tahun, dan Filipina mengalami rekor permintaan terendah sejak 2013 pada lelang tenor lima tahun.
Analis menilai, penurunan permintaan ini dipicu oleh faktor eksternal dan teknikal global, bukan semata-mata karena memburuknya fundamental ekonomi di kawasan Asia Tenggara. Kenaikan imbal hasil (yield) obligasi global, harga minyak yang tinggi, serta tekanan inflasi menjadi katalis utama yang membuat investor bersikap lebih selektif.
Kondisi pasar global yang volatil turut dipengaruhi oleh lonjakan yield US Treasury (UST) tenor 10 tahun yang berada di level 4,8 persen. Kenaikan yield obligasi Amerika Serikat ini memaksa investor untuk menghitung ulang premi risiko sebelum menempatkan modal di pasar negara berkembang (emerging market).
Meskipun pasar sedang tertekan, sejumlah investor institusi asing seperti Western Asset Management dan Aberdeen Investments tetap mempertahankan pandangan positif terhadap kawasan Asia Tenggara. Investor mulai melirik peluang masuk dengan fokus pada obligasi tenor pendek hingga menengah.
Strategi ini dianggap lebih aman karena memberikan imbal hasil menarik dengan sensitivitas harga yang jauh lebih rendah dibandingkan obligasi tenor panjang. Investor tetap bisa mendapatkan keuntungan tanpa harus menanggung risiko durasi yang terlalu besar di tengah ketidakpastian pasar.
Indonesia sendiri dinilai memiliki daya tarik kompetitif dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Hal ini ditopang oleh nominal yield yang relatif tinggi, likuiditas pasar obligasi yang memadai, serta dukungan basis investor domestik yang kuat.
Namun, stabilitas nilai tukar rupiah tetap menjadi variabel krusial yang dicermati oleh investor asing. Yield tinggi dianggap kurang menarik jika dibarengi dengan potensi risiko depresiasi mata uang yang signifikan.
Bagi investor di pasar Surat Berharga Negara (SBN), kondisi saat ini dipandang sebagai kesempatan untuk melakukan akumulasi secara bertahap. Namun, pelaku pasar tetap diimbau untuk mewaspadai volatilitas yang masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek.
Hingga akhir 2026, yield SBN tenor 10 tahun diproyeksikan bergerak di kisaran 6,9 persen hingga 7,6 persen. Sementara itu, yield tenor 5 tahun diperkirakan tidak akan berbeda jauh karena kurva imbal hasil diproyeksikan masih cenderung mendatar.
Ke depan, pelaku pasar perlu mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed), pergerakan harga komoditas energi, serta langkah fiskal domestik. Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu utama arah pasar obligasi di penghujung tahun 2026.






