Bursa Saham

Harga Avtur Naik, Begini Prospek Saham GIAA dan CMPP Jelang Nataru

55
×

Harga Avtur Naik, Begini Prospek Saham GIAA dan CMPP Jelang Nataru

Sebarkan artikel ini
Pesawat Garuda Indonesia dan AirAsia bersiap di landasan pacu bandara
Kenaikan harga avtur memicu penyesuaian fuel surcharge pada maskapai Garuda Indonesia dan AirAsia menjelang periode Nataru.

JAKARTA – Emiten penerbangan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) menghadapi tantangan operasional yang signifikan menjelang periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026/2027. Tekanan tersebut dipicu oleh tren kenaikan harga avtur yang konsisten serta kebijakan penyesuaian biaya tambahan bahan bakar atau fuel surcharge (FS).

Kementerian Perhubungan telah resmi menaikkan batas maksimal fuel surcharge untuk penerbangan domestik dari 30% menjadi 40% dari Tarif Batas Atas (TBA). Kebijakan ini diambil menyusul lonjakan harga avtur yang mencapai Rp23.315 per liter per 1 September 2026, atau meningkat 6,5% secara bulanan.

Analis Kiwoom Sekuritas Adrian Djie menyatakan bahwa kebijakan tersebut memberikan ruang bagi maskapai untuk mengalihkan beban biaya operasional kepada konsumen. Namun, penerapan batas maksimal 40% bersifat opsional dan tidak diwajibkan bagi seluruh maskapai.

Efektivitas kenaikan fuel surcharge dalam menjaga margin keuntungan akan bergantung pada strategi masing-masing maskapai dalam menghadapi kompetisi pasar. Maskapai harus menyeimbangkan antara pemulihan biaya operasional dengan risiko penurunan daya beli masyarakat.

Kenaikan harga tiket pesawat akibat akumulasi fuel surcharge dan faktor musiman Nataru dikhawatirkan akan meningkatkan sensitivitas harga di kalangan penumpang kelas ekonomi. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan penerbangan secara keseluruhan pada akhir tahun ini.

Data menunjukkan rata-rata harga avtur di lima bandara tersibuk di Indonesia mengalami kenaikan sekitar 6,4% pada September 2026. Tren harga minyak global yang masih fluktuatif di level tinggi turut memperburuk beban biaya operasional bagi GIAA maupun CMPP.

Momentum high season pada periode Nataru diprediksi akan mendongkrak pendapatan atau top line maskapai melalui peningkatan volume penumpang. Meski demikian, pertumbuhan pendapatan tersebut belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan laba bersih atau bottom line.

Peningkatan trafik penumpang akan dibarengi dengan lonjakan biaya operasional yang didominasi oleh konsumsi bahan bakar pesawat. Oleh karena itu, tantangan efisiensi biaya tetap menjadi fokus utama bagi manajemen maskapai hingga penutupan tahun buku 2026.

Di tengah kondisi pasar yang menantang, para pelaku pasar terus memantau pergerakan saham GIAA dan CMPP. Secara teknikal, analis merekomendasikan strategi trading buy untuk saham GIAA dengan target harga di level Rp71 per saham.

Selain tantangan operasional maskapai, sektor transportasi udara saat ini juga tengah diuji oleh faktor eksternal lainnya. Operasional penerbangan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta sempat mengalami gangguan akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9).

Gangguan tersebut memaksa pihak otoritas bandara untuk memperpanjang penutupan operasional sementara hingga pukul 17.30 WIB. Peristiwa ini menambah daftar tantangan logistik yang harus dihadapi industri penerbangan nasional di tengah upaya pemulihan kinerja keuangan sepanjang semester II-2026.