JAKARTA – Harga komoditas batubara mencatatkan tren penguatan signifikan dalam sepekan terakhir, didorong oleh tingginya permintaan dari pasar Asia. Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (28/8/2026) pukul 15.12 WIB, harga batubara berada di level US$ 139,50 per ton.
Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 6,29% hanya dalam kurun waktu satu hari. Secara mingguan, harga batubara telah terkerek naik 6,90%, sementara dalam hitungan bulanan, komoditas ini mencatatkan apresiasi sebesar 7,10%.
Faktor utama yang menopang kenaikan harga ini adalah menipisnya stok batubara di pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di India. Permintaan yang kuat dari China dan India menjadi pilar utama yang menjaga prospek harga tetap positif.
Data menunjukkan bahwa sebanyak 45 pembangkit listrik berbahan bakar batubara di India kini berada dalam kondisi stok kritis. Angka ini meningkat tajam dibandingkan posisi akhir Juli yang mencatat 31 pembangkit dalam kondisi serupa.
Secara akumulatif, stok batubara untuk kebutuhan pembangkit listrik di India telah menyusut sekitar 19% sejak bulan Juli. Saat ini, cadangan yang tersedia hanya mampu mencukupi kebutuhan operasional untuk sekitar 10 hari ke depan.
Kondisi pasokan yang menipis tersebut memaksa India untuk meningkatkan serapan pasar guna menjamin stabilitas energi domestik. Peningkatan permintaan ini secara langsung memberikan dukungan teknis terhadap harga komoditas batubara di pasar global.
Analis pasar memproyeksikan harga batubara akan bergerak di kisaran US$ 130 hingga US$ 155 per ton hingga akhir tahun 2026. Level harga US$ 150 per ton dinilai sangat terbuka untuk dicapai jika gangguan pasokan terus berlanjut.
Meskipun tren harga menunjukkan penguatan, pergerakan batubara diprediksi akan tetap lebih moderat dibandingkan komoditas energi lainnya seperti minyak bumi. Batubara dinilai memiliki karakteristik pergerakan harga yang lebih stabil dan tidak terlalu volatil.
Perkembangan kebijakan energi di India akan menjadi sentimen utama yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar hingga akhir tahun. Dinamika stok dan kebutuhan impor India akan menentukan arah tren harga batubara ke depan.
Di tengah dinamika pasar komoditas yang fluktuatif, investor juga mulai menaruh perhatian pada instrumen investasi lainnya seperti Sukuk Ritel (SR025). Meskipun minat investor terhadap SR025 masih dinilai positif, tantangan likuiditas dan persaingan antar-instrumen investasi membuat strategi penjualan menjadi lebih selektif.
Keberlanjutan permintaan dari kawasan Asia tetap menjadi katalis utama bagi pasar batubara di sisa tahun 2026. Para pelaku pasar kini memantau apakah peningkatan permintaan dari India dapat menjaga momentum harga di tengah ketatnya pasokan global.






