JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, Senin (24/8/2026). Sentimen positif dari investor asing serta optimisme terhadap sektor perbankan dan komoditas menjadi pendorong utama pergerakan indeks.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.480 hingga 6.580. Level 6.500 ditetapkan sebagai batas support psikologis krusial, sementara area 6.550-6.580 menjadi resistance terdekat.
Hendra mengingatkan investor untuk tetap mewaspadai potensi aksi ambil untung atau profit taking setelah indeks mencatatkan kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir. Jika IHSG gagal mempertahankan level 6.500, indeks berisiko mengalami koreksi teknikal menuju kisaran 6.450-6.480.
Sebaliknya, peluang untuk menembus level 6.650 akan terbuka lebar apabila indeks mampu menembus resistance 6.580. Skenario ini harus didukung oleh peningkatan volume transaksi serta keberlanjutan arus masuk modal asing (foreign net buy).
Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, turut memproyeksikan penguatan terbatas dengan support di level 6.482 dan resistance di 6.628. Pergerakan pasar hari ini diyakini akan sangat dipengaruhi oleh dinamika eksternal dan domestik.
Pelaku pasar saat ini tengah menantikan hasil Jackson Hole Symposium yang menjadi acuan kebijakan moneter global. Selain itu, fluktuasi harga komoditas seperti emas dan minyak mentah menjadi perhatian utama para investor.
Rencana penyesuaian kembali atau rebalancing indeks MSCI dan FTSE yang akan berlaku efektif pada September 2026 juga menjadi faktor yang memengaruhi arah pasar. Sentimen ini dinilai cukup signifikan bagi pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.
Terkait aliran modal asing, Hendra mencatat adanya net buy sebesar Rp 992 miliar pada Jumat lalu. Meski akumulasi mingguan mencapai Rp 548 miliar, angka tersebut dianggap masih relatif kecil dibandingkan total net sell sepanjang tahun.
Oleh karena itu, konsistensi pembelian oleh investor asing dalam beberapa pekan ke depan menjadi kunci pemulihan pasar. Kepercayaan investor asing akan memberikan stabilitas lebih kuat bagi pergerakan IHSG ke depan.
Dari sisi sektoral, sektor perbankan dinilai masih sangat menarik untuk dicermati. Pertumbuhan kredit nasional sebesar 13% dan likuiditas M2 yang meningkat 8,3% menjadi katalis fundamental yang kuat bagi perbankan nasional.
Saham BBRI direkomendasikan dengan strategi trading buy dan target harga di kisaran Rp 3.420. BBRI dipandang memiliki bobot besar yang mampu menggerakkan indeks jika arus modal asing terus mengalir masuk.
Selain itu, sektor energi dan pertambangan tetap menjadi pilihan menarik seiring tingginya harga komoditas. Saham BUMI dapat dicermati dengan target harga Rp 230, namun investor diingatkan untuk tetap disiplin menerapkan batas risiko mengingat volatilitasnya yang tinggi.
Untuk sektor emas, BRMS menjadi opsi spekulatif dengan target harga Rp 750. Sementara itu, SRTG juga masuk dalam radar sebagai alternatif investasi dengan target harga Rp 2.200.
Herditya menambahkan beberapa rekomendasi saham lain untuk dicermati, yakni FORE dengan target harga Rp 865-Rp 915. Selain itu, saham MBMA diproyeksikan pada target Rp 605-Rp 660, dan TLKM pada rentang Rp 2.740-Rp 2.840.






