Bursa Saham

S&P Dow Jones Sebut Saham Indonesia Masih Menarik bagi Investor

41
×

S&P Dow Jones Sebut Saham Indonesia Masih Menarik bagi Investor

Sebarkan artikel ini
Suasana Fortune Indonesia Investment Forum 2026 di Jakarta yang membahas prospek pasar saham domestik bagi investor global
Direktur Global Exchange Indices S&P Dow Jones Indices, Sean Freer, berbicara dalam acara Fortune Indonesia Investment Forum 2026 di Jakarta.

JAKARTA – Saham Indonesia dinilai masih memiliki daya tarik kuat bagi investor global di tengah tantangan pasar yang ada saat ini. Direktur Global Exchange Indices di S&P Dow Jones Indices, Sean Freer, mengungkapkan bahwa imbal hasil dividen (dividend yield) saham domestik kini berada di posisi yang kompetitif, yakni di atas 6 persen.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam ajang Fortune Indonesia Investment Forum 2026 di Jakarta, Sabtu (29/8/2026). Freer menyoroti bahwa meski terdapat koreksi harga sepanjang tahun ini, fundamental perusahaan di Indonesia tetap terjaga dengan baik.

Koreksi pasar yang terjadi saat ini dipandang sebagai dampak dari peristiwa spesifik, termasuk tinjauan klasifikasi pasar oleh MSCI pada Januari 2026 dan S&P Dow Jones Indices pada Juli 2026. Menurut Freer, kendati peninjauan tersebut memicu sentimen pesimis sesaat, Indonesia tetap menjadi pasar strategis secara komersial.

Dalam catatan historisnya, saham Indonesia terbukti mampu mengungguli indeks pasar maju maupun pasar berkembang dalam 15 dari 26 tahun periode pengamatan. Freer mengakui kinerja terkini memang sempat berada di bawah rata-rata indeks global.

Namun, bagi investor yang menerapkan strategi mean reversion atau kembali ke nilai rata-rata, kondisi saat ini justru dianggap sebagai peluang. Penurunan kinerja tersebut dinilai sebagai indikator bahwa valuasi saham Indonesia kini jauh lebih menarik dibandingkan indeks pasar lainnya.

Optimisme ini terefleksi dari langkah sejumlah manajer investasi aktif yang mengambil posisi overweight atau menambah porsi kepemilikan pada saham Indonesia. Keputusan ini menunjukkan bahwa para manajer investasi sengaja memperbesar eksposur Indonesia melebihi bobot acuan (benchmark) mereka.

Data menunjukkan, pada segmen saham Asia, perusahaan seperti First State, Invesco, M&G, dan AllianceBernstein telah mengambil posisi overweight di atas 2 persen. Sementara di segmen saham ASEAN, Fidelity, Barings, Manulife, dan First State bahkan menempatkan posisi overweight di atas 10 persen.

Freer mengestimasi lebih dari 800 juta dolar AS telah ditempatkan pada efek Indonesia oleh daftar manajer investasi tersebut. Angka ini diyakini akan terus berkembang karena belum mencakup keseluruhan reksa dana yang beroperasi di segmen terkait.

Kendati demikian, Indonesia tetap menghadapi tantangan berat dalam kompetisi menarik modal global. Standar investasi institusional yang semakin ketat dan kemudahan akses bagi investor untuk mengalihkan modal ke pasar maju menjadi faktor utama yang harus diperhatikan.

Di sisi lain, kondisi makroekonomi Indonesia tetap memberikan sinyal positif dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,3 persen secara tahunan pada kuartal II-2026. Stabilitas ekonomi ini menjadi modal penting di tengah ketidakpastian pasar saham global yang dipengaruhi oleh kebijakan suku bunga bank sentral serta fluktuasi ekonomi Amerika Serikat.

Selain itu, dinamika pasar domestik juga akan dipengaruhi oleh rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan berlaku mulai 1 September 2026. Perubahan bobot ini diperkirakan akan berdampak pada sejumlah emiten besar, yang menuntut investor untuk lebih selektif dalam menyusun portofolio jangka panjang.S&P Dow Jones Sebut Saham Indonesia Masih Menarik bagi Investor