Bursa Saham

BEI Ungkap 7 Perusahaan Antre IPO, Termasuk 3 Emiten Jumbo

31
×

BEI Ungkap 7 Perusahaan Antre IPO, Termasuk 3 Emiten Jumbo

Sebarkan artikel ini
Gedung Bursa Efek Indonesia di Jakarta dengan latar belakang aktivitas pasar modal
Bursa Efek Indonesia mencatat tujuh perusahaan sedang mengantre untuk melangsungkan penawaran umum perdana saham atau IPO.

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat sebanyak tujuh perusahaan kini tengah berada dalam antrean untuk melangsungkan penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO). Proses ini menjadi indikator dinamika pasar modal yang terus bertumbuh hingga akhir tahun 2026.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, mengungkapkan bahwa ketujuh calon emiten tersebut berasal dari berbagai sektor usaha. Perusahaan-perusahaan ini memiliki skala aset yang bervariasi sesuai dengan klasifikasi POJK Nomor 53/POJK.04/2017.

Berdasarkan data BEI, terdapat tiga perusahaan dengan aset skala besar yang nilainya di atas Rp250 miliar. Selain itu, terdapat dua perusahaan berskala menengah dengan aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.

Dua perusahaan sisanya masuk dalam kategori skala kecil dengan total aset di bawah Rp50 miliar. Secara keseluruhan, ketujuh perusahaan ini mencakup sektor industri, kesehatan, energi, serta sektor konsumer non-siklikal.

Sektor kesehatan mendominasi daftar antrean dengan kontribusi sebanyak empat perusahaan. Sementara itu, sektor industri, energi, dan konsumer non-siklikal masing-masing menyumbang satu calon emiten.

Hingga 28 Agustus 2026, BEI telah mencatatkan tujuh perusahaan baru yang melantai di bursa. Total dana yang berhasil dihimpun dari aksi korporasi tersebut mencapai Rp2,16 triliun.

Di sisi lain, rencana besar turut datang dari Badan Pengelola (BP) BUMN atau Danantara. Lembaga ini menyiapkan langkah strategis untuk membawa sejumlah perusahaan pelat merah melantai di bursa saham.

Kepala BP BUMN, Dony Oskaria, menyatakan bahwa IPO BUMN merupakan bagian dari peta jalan transformasi lima tahun. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan nilai tambah sekaligus memperdalam pasar modal di Indonesia.

Beberapa perusahaan pelat merah yang disebut memiliki potensi besar untuk IPO meliputi PT Pegadaian dan PT Pupuk Indonesia. Selain itu, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) serta PT Angkasa Pura Indonesia turut masuk dalam radar pengembangan.

Dony menjelaskan bahwa tahun pertama transformasi akan difokuskan pada konsolidasi dan restrukturisasi. Fokus tersebut menyasar lebih dari 1.000 perusahaan yang berada di bawah naungan Danantara.

Aksi korporasi bagi perusahaan jumbo tersebut direncanakan akan dieksekusi setelah pembenahan internal rampung. Rencana ini diproyeksikan akan terlaksana pada tahun keempat dalam peta jalan transformasi lima tahun tersebut.

Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyambut positif rencana tersebut. Menurutnya, kehadiran BUMN berfundamental kuat di bursa akan memberikan opsi investasi yang lebih luas bagi para investor.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kapitalisasi pasar secara signifikan. Selain itu, keterlibatan BUMN di pasar modal diyakini dapat memperkuat struktur ekonomi nasional melalui transparansi dan tata kelola perusahaan yang lebih baik.

Di daerah lain, inisiatif korporasi juga mulai merambah ke tingkat Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Gubernur Sumatra Utara, Muhammad Bobby Afif Nasution, turut mendorong dua BUMD setempat, yakni Tirtanadi dan Bank Sumut, untuk segera melantai di bursa.