NEW YORK – Harga emas dunia mencatatkan kenaikan pada perdagangan akhir pekan, Jumat (11/9/2026), setelah sempat mengalami tekanan jual yang cukup dalam pada sesi sebelumnya. Aksi beli saat harga turun (buy on weakness) oleh para investor menjadi pendorong utama pemulihan logam mulia tersebut di pasar spot.
Data Trading Economics mencatat harga emas spot ditutup menguat 0,76% ke level US$ 4.350,36 per ons troi pada perdagangan Jumat. Meskipun terjadi rebound, secara akumulatif harga emas spot masih mencatatkan koreksi sebesar 1,82% selama sepekan terakhir.
Pemulihan harga ini terjadi di tengah rilis data ekonomi Amerika Serikat yang cukup menantang. Indeks Harga Konsumen (IHK) AS tercatat naik 0,4% pada Agustus, setelah sebelumnya tumbuh 0,1% pada Juli.
Dalam kurun waktu 12 bulan hingga Agustus, IHK secara tahunan melonjak 5,4%. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan kenaikan 4,8% yang tercatat pada bulan Juli.
Data inflasi yang kuat tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada pertemuan minggu depan. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga melonjak hingga 87%.
Angka tersebut naik drastis dari estimasi sebesar 67% sebelum data inflasi dirilis ke publik. Para pelaku pasar kini telah memproyeksikan kebijakan moneter yang lebih agresif sebagai respons atas tekanan inflasi yang persisten.
Tai Wong, seorang pedagang logam independen, menyebut emas menunjukkan tanda-tanda telah menemukan titik dasar jangka pendek. Menurutnya, volatilitas pasar mulai mereda karena investor telah sepenuhnya memperhitungkan skenario kenaikan suku bunga dalam posisi portofolio mereka.
Di sisi lain, harga emas berjangka AS terpantau bergerak stagnan dan ditutup di kisaran US$ 4.408,90 per ons troi. Kondisi ini mencerminkan sikap hati-hati pasar menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed.
Kenaikan suku bunga secara teori memang menjadi sentimen negatif bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Namun, fungsi emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi tetap menjaga minat beli investor di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Dinamika pasar komoditas lainnya turut memberikan tekanan, terutama dari sektor energi. Harga minyak dunia yang sempat melemah tetap berada di jalur kenaikan mingguan, yang memicu kekhawatiran tambahan terkait inflasi di masa depan.
Sementara itu, permintaan fisik emas di pasar global menunjukkan tren yang bervariasi. Di India, permintaan cenderung lesu akibat fluktuasi harga yang membuat konsumen menahan diri untuk melakukan pembelian.
Sebaliknya, minat investasi emas di Tiongkok dilaporkan tetap kuat. Negara konsumen utama tersebut masih mencatatkan permintaan yang stabil di tengah upaya diversifikasi aset oleh para investor domestik di tengah pelemahan saham perbankan.





