JAKARTA – PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) tengah mengintensifkan langkah restrukturisasi keuangan guna memperbaiki kinerja perseroan yang masih tertekan sepanjang tahun 2026. Perseroan menargetkan penyelesaian restrukturisasi utang perbankan senilai Rp 17,6 triliun serta surat utang sebesar Rp 10,2 triliun.
Direktur WIKA, Mulyadi, menyatakan bahwa negosiasi dengan pihak perbankan masih terus dilakukan secara intensif. Manajemen berharap kesepakatan final mengenai restrukturisasi ini dapat tercapai pada akhir tahun 2026.
Upaya penyehatan neraca juga dilakukan melalui divestasi aset secara bertahap hingga tahun 2028 dengan nilai total mencapai Rp 5 triliun. Direktur Utama WIKA, I Ketut Pasek Senjaya Putra, menjelaskan bahwa hasil divestasi tersebut akan difokuskan untuk melunasi utang berskala besar.
Objek divestasi mencakup kepemilikan pada ruas jalan tol, bisnis pengelolaan air, hingga sektor energi. Untuk tahun 2026, perseroan menargetkan pelepasan empat aset dengan nilai Rp 1,9 triliun, termasuk PT Wika Tirta Jaya Jatiluhur dan Tol Patimban.
Di sisi operasional, WIKA melakukan program streamlining untuk kembali fokus pada bisnis inti dengan target imbal hasil proyek minimal 8% hingga 10%. Perusahaan berkomitmen meningkatkan efisiensi biaya usaha dan menyeleksi proyek secara lebih ketat.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai tahun 2027 sebagai periode krusial bagi proses turnaround WIKA. Meski perbaikan operasional mulai terlihat, tekanan dari beban keuangan dan struktur utang masih menjadi tantangan besar.
Menurut Ekky, indikator pemulihan WIKA tidak hanya bergantung pada perolehan kontrak baru, melainkan pada kualitas kontrak yang mampu menghasilkan arus kas positif. Selektivitas dalam mengambil proyek menjadi kunci agar perusahaan terhindar dari risiko pembengkakan biaya (cost overrun).
Senada dengan hal tersebut, Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menekankan pentingnya eksekusi restrukturisasi yang konsisten. Ia menilai WIKA masih berada dalam kategori perusahaan dengan profil risiko tinggi selama proses penyehatan berlangsung.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian utama adalah eksposur WIKA terhadap PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Beban cost overrun pada proyek Whoosh dinilai menjadi salah satu pemberat utama kinerja keuangan perseroan saat ini.
Pemerintah sebelumnya telah merencanakan pengalihan pengelolaan kewajiban Whoosh, namun proses finalisasi masih terus berjalan. Kepastian skema pengalihan ini menjadi salah satu katalis penting bagi perbaikan fundamental WIKA ke depan.
Terkait status saham yang masih dalam suspensi, investor disarankan untuk terus memantau perkembangan restrukturisasi obligasi dan sukuk. Pemulihan arus kas operasi serta perbaikan posisi ekuitas menjadi indikator utama sebelum perdagangan saham dapat kembali normal.
Langkah strategis ini sejalan dengan tren penyehatan emiten BUMN Karya di bawah payung Danantara. Konsolidasi dan efisiensi menjadi fokus utama bagi perusahaan konstruksi pelat merah untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah kondisi pasar yang menantang.






