JAKARTA – Indeks dolar AS (DXY) mengalami tekanan dan turun ke level 101,1 pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Pergerakan ini dipicu oleh rilis data inflasi yang melandai, sehingga memperkuat spekulasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan Oktober mendatang.
Berdasarkan data Tradingeconomics, indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) utama tercatat naik 0,3% secara bulanan. Sementara itu, PCE inti yang tidak memperhitungkan komponen pangan dan energi yang fluktuatif, mengalami kenaikan sebesar 0,2%.
Data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan tersebut memberikan ruang bagi pelaku pasar untuk mengantisipasi kebijakan moneter yang lebih moderat. Meski demikian, dolar AS tercatat masih menguat lebih dari 1,5% sepanjang bulan September ini.
Di sisi lain, fundamental ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang cukup solid. Belanja konsumen dilaporkan tetap tangguh, dengan rumah tangga terus melakukan pembelian pada sektor kendaraan, perabotan, hingga pakaian.
Tren konsumsi ini tetap terjaga meskipun tekanan inflasi dari harga bensin dan biaya hidup lainnya masih membayangi. Kondisi ini mencerminkan daya beli masyarakat AS yang belum sepenuhnya tergerus oleh volatilitas harga global.
Kinerja ekonomi juga didukung oleh revisi pertumbuhan PDB kuartal kedua yang kini diperkirakan mencapai 2,2%. Angka ini mencatatkan kenaikan signifikan dari estimasi awal yang hanya berada di level 1,5%.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama turut direvisi naik oleh otoritas terkait. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian AS memiliki fondasi yang cukup kokoh dalam menghadapi tantangan eksternal.
Sektor tenaga kerja juga memberikan sinyal positif bagi pengambil kebijakan di The Fed. Aktivitas perekrutan oleh perusahaan-perusahaan di AS dilaporkan menguat sepanjang bulan September.
Data ketenagakerjaan pemerintah yang dijadwalkan rilis pada Jumat mendatang menjadi sorotan utama pasar. Laporan tersebut diperkirakan menunjukkan penambahan 90.000 lapangan kerja (payrolls) baru.
Angka penyerapan tenaga kerja ini akan menjadi instrumen penting bagi The Fed dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Keputusan tersebut rencananya akan diputuskan dalam pertemuan komite pada 28 Oktober 2026.
Secara kumulatif, posisi dolar AS tidak banyak mengalami perubahan selama kuartal ketiga tahun ini. Fokus investor saat ini tertuju pada bagaimana kebijakan moneter akan menyeimbangkan antara pertumbuhan ekonomi yang kuat dan pengendalian inflasi.
Pasar terus memantau indikator ekonomi makro AS sebagai acuan utama dalam menentukan strategi investasi di tengah ketidakpastian global. Dinamika suku bunga The Fed diprediksi tetap menjadi penggerak utama nilai tukar mata uang global dalam jangka pendek.






