Energi

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak ke Level Tertinggi

81
×

Konflik Timur Tengah Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak ke Level Tertinggi

Sebarkan artikel ini
Pipa penyaluran minyak mentah di kilang industri dengan latar belakang kilang yang sedang beroperasi
Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

NEW YORK – Harga minyak dunia melonjak ke level tertinggi dalam enam pekan terakhir pada perdagangan Senin (7/9/2026). Kenaikan ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang mengancam stabilitas pasokan energi global.

Harga minyak Brent tercatat naik 1,1% menjadi US$ 97,31 per barel, setelah sempat menyentuh level US$ 98,06. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,3% ke posisi US$ 92,65 per barel.

Ketegangan di Timur Tengah memuncak setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan terhadap kapal tanker minyak dan kapal perang. Iran bahkan mengeluarkan ancaman untuk menyerang infrastruktur energi di kawasan jika AS terus melakukan serangan terhadap aset-asetnya.

Gangguan pada jalur logistik menjadi perhatian utama pelaku pasar saat ini. Data Kpler menunjukkan rata-rata lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun drastis menjadi hanya 10 kapal per hari dalam sepuluh hari terakhir.

Penurunan ini merupakan level terendah sejak Mei dan memicu kekhawatiran akan guncangan pasokan yang lebih besar. Analis dari Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, menyebut pasar mulai memperhitungkan risiko gangguan serius terhadap distribusi energi dunia.

Goldman Sachs memprediksi harga minyak berpotensi menembus level US$ 120 per barel jika serangan terhadap kapal tanker terus meningkat. Risiko ini diperparah oleh serangan Israel di Lebanon selatan yang menewaskan 12 orang pada Senin.

Fasilitas energi Arab Saudi, yakni kilang milik Saudi Aramco di Jazan, juga dilaporkan menjadi sasaran serangan. Sepekan sebelumnya, sebuah kapal tanker milik Arab Saudi diserang oleh Iran hingga mengakibatkan dua awak kapal tewas.

Sebagai langkah antisipasi, Iran berencana mengumumkan zona terbatas di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari ke depan. Uni Emirat Arab kini mulai membangun jalur ekspor alternatif untuk memitigasi risiko terganggunya aktivitas perdagangan akibat perang.

Tekanan pasokan global semakin terasa setelah harga Brent naik 8% dan WTI melonjak hampir 10% sepanjang pekan lalu. Persediaan bahan bakar di Amerika Serikat tercatat berada jauh di bawah rata-rata musiman lima tahun terakhir.

Kondisi pasokan yang ketat ini mendorong sejumlah negara mulai menggunakan cadangan minyak nasional. Analis PVM Energy menilai tekanan pasokan saat ini jauh lebih serius dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Di tengah situasi tersebut, OPEC+ memutuskan untuk mempertahankan kebijakan produksi minyak untuk bulan Oktober pada pertemuan Minggu (6/9/2026). Kelompok produsen minyak ini masih menunda kesepakatan kuota baru sembari memantau perkembangan konflik di Timur Tengah.

Pasar kini berada dalam kondisi siaga tinggi terhadap potensi gangguan distribusi lebih lanjut. Ketidakpastian geopolitik menjadi katalis utama yang memengaruhi pergerakan harga komoditas energi di pasar internasional.