JAKARTA – PT Espay Debit Indonesia Koe atau DANA Indonesia kini mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) secara masif dalam operasional bisnisnya, khususnya untuk memperkuat ekosistem layanan pinjaman digital atau lending. Teknologi ini difungsikan sebagai sistem penilaian kredit (credit scoring) dan mesin pengambil keputusan (credit decision engine) guna menentukan kelayakan serta besaran plafon pinjaman bagi pengguna.
Chief Technology Officer (CTO) DANA Indonesia, Norman Sasono, menyatakan bahwa penerapan AI menjadi pilar strategis perusahaan dalam melakukan diversifikasi layanan. DANA yang sebelumnya dikenal sebagai platform pembayaran digital, kini gencar merambah sektor keuangan lainnya, seperti investasi dan asuransi.
Norman menjelaskan bahwa pemanfaatan AI bertujuan untuk menciptakan solusi yang lebih presisi bagi kebutuhan finansial pengguna. Inisiatif ini juga dibarengi dengan upaya perusahaan untuk meningkatkan literasi masyarakat agar lebih familiar dengan ragam layanan DANA di luar fungsi transaksi pembayaran.
Di tingkat industri, Norman mengamati adanya pergeseran tren adopsi teknologi di Indonesia. Jika sebelumnya AI hanya digunakan untuk interaksi tanya-jawab, saat ini tren telah berkembang menuju agentic AI yang mampu menjalankan tugas teknis seperti pemrograman hingga otomasi proses bisnis.
Peningkatan adopsi ini, menurut Norman, harus dibarengi dengan tata kelola perusahaan yang ketat. Ia menyoroti tantangan krusial mengenai pengukuran return on investment (ROI) dari penggunaan AI yang sering kali memakan biaya operasional tinggi namun belum tentu menghasilkan dampak bisnis yang sepadan.
Tantangan lain yang tak kalah penting adalah aspek akuntabilitas. Norman menegaskan bahwa setiap keputusan yang diambil oleh sistem AI di DANA harus tetap memiliki penanggung jawab dari kalangan manusia atau individu yang memegang jabatan terkait.
Kebijakan ini diambil untuk memitigasi risiko jika terjadi kesalahan sistem dalam pengambilan keputusan kredit. Dengan demikian, kepala departemen terkait tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab penuh atas hasil kerja teknologi tersebut.
Strategi ini mencerminkan dinamika industri keuangan digital yang kini semakin bergantung pada data untuk mengukur kemampuan bayar nasabah. Di tengah meningkatnya beban utang publik dan kebutuhan akan pengelolaan kredit yang sehat, efisiensi melalui teknologi menjadi krusial.
Penerapan credit scoring berbasis AI diharapkan mampu membantu perusahaan menyeimbangkan antara ekspansi kredit dan manajemen risiko. Hal ini sejalan dengan tren di sektor perbankan dan lembaga keuangan lain yang kini dituntut untuk lebih selektif dalam menyalurkan pinjaman guna menghindari gagal bayar.
Dengan langkah ini, DANA berupaya memastikan bahwa integrasi teknologi tidak hanya memberikan kemudahan bagi pengguna, tetapi juga menjaga keberlanjutan bisnis perusahaan di tengah persaingan layanan keuangan digital yang semakin ketat. Fokus perusahaan kini adalah memastikan setiap implementasi AI memberikan hasil nyata bagi pertumbuhan bisnis yang terukur dan bertanggung jawab.






