Bursa Saham

IHSG Melemah ke 6.636, Saham EMTK hingga ASII Memimpin Penurunan

57
×

IHSG Melemah ke 6.636, Saham EMTK hingga ASII Memimpin Penurunan

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di layar monitor bursa efek
IHSG ditutup melemah ke level 6.636 pada perdagangan akhir pekan, Jumat (4/9/2026).

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan akhir pekan, Jumat (4/9/2026), di zona merah dengan pelemahan sebesar 31,41 poin atau 0,47% ke level 6.636,47. Koreksi ini terjadi di tengah dinamika pasar modal domestik yang mencatatkan dominasi saham-saham yang mengalami penurunan harga.

Data perdagangan menunjukkan sebanyak 363 saham ditutup melemah, sementara 256 saham berhasil menguat dan 172 saham lainnya stagnan. Total volume transaksi yang tercatat di bursa hari ini mencapai 35,65 miliar saham dengan nilai perputaran mencapai Rp 14,94 triliun.

Kinerja sektoral bursa mencerminkan tekanan jual yang cukup luas. Sebanyak delapan dari sebelas indeks sektoral terpaksa masuk ke zona merah, dipimpin oleh sektor transportasi yang terkoreksi 1,09%.

Selain itu, sektor barang konsumen non-siklikal turun 1,07% dan sektor teknologi melemah 0,76%. Tekanan pada sektor-sektor ini menjadi penekan utama laju IHSG sepanjang hari.

Di sisi lain, terdapat tiga sektor yang mampu bertahan di zona hijau di tengah pelemahan indeks. Sektor energi memimpin penguatan dengan kenaikan 0,22%, diikuti sektor barang konsumen siklikal sebesar 0,19% dan sektor perindustrian sebesar 0,18%.

Dalam jajaran indeks LQ45, saham-saham yang menempati posisi top losers adalah PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) yang merosot 3,74%, PT Astra International Tbk (ASII) turun 2,97%, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) melemah 2,94%.

Sebaliknya, saham-saham yang mencatatkan kenaikan signifikan atau top gainers LQ45 meliputi PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dengan penguatan 3,30%. Selanjutnya, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) naik 1,94% dan PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menguat 0,67%.

Kondisi pasar saham hari ini terjadi beriringan dengan pergerakan mata uang rupiah yang justru menunjukkan penguatan ke level Rp 17.642 per dolar AS. Tren penguatan rupiah ini juga diikuti oleh mayoritas mata uang di kawasan Asia.

Di luar pasar modal, sentimen ekonomi nasional saat ini turut diwarnai oleh penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 September 2026. Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex tercatat mengalami kenaikan, sementara harga Pertamax dan Pertalite tetap stabil.

Sektor korporasi juga tengah menjadi sorotan, terutama setelah TBS Energi Utama (TOBA) berhasil memangkas utang jangka pendek sebesar 30,9% pada semester I-2026. Perbaikan struktur keuangan ini didukung oleh arus kas operasi yang positif dan pertumbuhan EBITDA.

Sementara itu, Bank Indonesia terus memantau likuiditas perbankan yang dinilai belum merata di seluruh institusi. Likuiditas pada kelompok bank Himbara dilaporkan cukup ketat jika merujuk pada indikator suku bunga antarbank INDONIA.

Di sisi lain, perusahaan ritel seperti Blibli (BELI) tetap menunjukkan optimisme terhadap penjualan produk Apple. Manajemen meyakini loyalitas konsumen dan ekspansi toko fisik akan mampu menopang kinerja meski terdapat potensi kenaikan harga perangkat hingga 30%.