Energi

Harga Minyak Terkoreksi Usai Risiko Gangguan di Selat Hormuz Mereda

116
×

Harga Minyak Terkoreksi Usai Risiko Gangguan di Selat Hormuz Mereda

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga minyak mentah dunia di layar monitor perdagangan
Harga minyak mentah dunia terkoreksi seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan di Selat Hormuz.

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan koreksi pada perdagangan Jumat (28/8/2026) seiring dengan meredanya kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan di Selat Hormuz. Kondisi geopolitik yang mulai melunak memberikan sentimen negatif bagi harga komoditas energi tersebut.

Berdasarkan data Trading Economics hingga pukul 17.32 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 83,27 per barel. Angka ini mencerminkan penurunan harian sebesar 0,31% dan koreksi mingguan mencapai 4,51%.

Tren serupa terjadi pada harga minyak jenis Brent yang berada di posisi US$ 88,30 per barel. Harga Brent tercatat melemah 0,21% secara harian dan terkoreksi 6,60% dalam kurun waktu satu pekan terakhir.

Sentimen pasar dipicu oleh pernyataan bersama antara Iran dan Oman terkait pembentukan koridor maritim sementara. Langkah ini mencakup program pembersihan ranjau guna memulihkan navigasi kapal yang aman di jalur perdagangan minyak vital tersebut.

Perkembangan diplomatik ini dianggap berhasil mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya sempat melonjak. Namun, pelaku pasar tetap bersikap waspada karena proses negosiasi lanjutan masih akan berlangsung dalam 30 hingga 60 hari ke depan.

Analisis pasar menunjukkan bahwa penguatan harga minyak sebelumnya bersifat sementara dan rentan terhadap pembalikan arah. Faktor kebijakan Amerika Serikat terhadap Iran dinilai masih menjadi variabel penentu yang signifikan dalam dinamika harga ke depan.

Risiko eskalasi mendadak di kawasan Teluk masih tetap tinggi meski tren jangka pendek menunjukkan adanya pelonggaran tensi. Hal ini membuat pergerakan harga minyak diprediksi tetap volatil hingga penutupan akhir tahun 2026.

Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati sejumlah indikator fundamental ekonomi global lainnya. Persediaan minyak dan produk sulingan di Amerika Serikat menjadi sorotan utama bagi para investor.

Kebijakan produksi OPEC+ serta kondisi cadangan strategis minyak AS yang kini berada di bawah 300 juta barel turut mempengaruhi sentimen pasar. Selain itu, arah kebijakan suku bunga The Fed tetap menjadi katalis penting dalam menentukan arah harga komoditas.

Proyeksi harga minyak mentah Brent hingga akhir tahun 2026 diperkirakan bergerak di kisaran US$ 75 hingga US$ 95 per barel. Skenario dasar menempatkan harga berada di level US$ 80 per barel.

Untuk WTI, harga diproyeksikan berada di rentang US$ 70 hingga US$ 88 per barel. Risiko terhadap proyeksi tersebut cenderung meningkat apabila terjadi eskalasi mendadak di Selat Hormuz.

Skenario ekstrem memperkirakan bahwa jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut hingga tahun 2027, harga Brent berpotensi menembus level US$ 130 per barel. Ketidakpastian ini mengharuskan pelaku pasar untuk terus memantau perkembangan geopolitik global.