Yogyakarta – PT Swayasa Prakarsa Tbk (SWAP), entitas komersialisasi riset Universitas Gadjah Mada (UGM), bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Perusahaan sektor kesehatan ini dijadwalkan mencatatkan sahamnya di papan bursa pada 10 September 2026.
Dalam aksi korporasi ini, SWAP melepas sebanyak-banyaknya 323 juta lembar saham baru kepada publik. Jumlah tersebut setara dengan 30,30% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Perseroan menetapkan rentang harga penawaran awal di kisaran Rp 130 hingga Rp 140 per saham. Melalui penawaran ini, SWAP berpotensi meraup dana segar maksimal sebesar Rp 45,22 miliar.
PT Sukadana Prima Sekuritas telah ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi efek dalam proses IPO ini. Masa penawaran awal atau bookbuilding dijadwalkan berlangsung mulai hari ini, 24 Agustus, hingga 27 Agustus 2026.
Dana hasil IPO tersebut rencananya akan digunakan untuk modal kerja sebesar Rp 15,8 miliar guna meningkatkan kapasitas dan kualitas produksi. Selain itu, sekitar Rp 12,2 miliar akan dialokasikan untuk belanja modal atau capital expenditure.
Sebanyak Rp 12 miliar lainnya akan digunakan untuk pembayaran utang. Dana tersebut akan melunasi utang kepada PT Gama Multi Usaha Mandiri sebesar Rp 2 miliar dan kepada Yayasan UGM sebesar Rp 10 miliar.
Kinerja keuangan perseroan menunjukkan pendapatan mencapai Rp 588,87 juta sepanjang Januari hingga Februari 2026. Angka tersebut naik 28,16% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski pendapatan tumbuh, SWAP masih mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 570,59 juta hingga Februari 2026. Namun, kerugian tersebut telah menyusut 41,70% dibandingkan periode sebelumnya yang mencapai Rp 978,70 juta.
Perseroan menegaskan bahwa pembagian dividen di masa depan bergantung pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Jika perusahaan mencatatkan rugi bersih, manajemen mempertimbangkan untuk tidak membagikan dividen kepada pemegang saham.
Universitas Gadjah Mada tetap memegang kendali atas perseroan pasca-IPO. Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menyatakan tidak akan melepaskan kendali atas perusahaan selama 12 bulan sejak tanggal efektif IPO.
Dalam prospektusnya, SWAP memaparkan sejumlah risiko usaha yang berpotensi memengaruhi kinerja. Risiko utama mencakup tantangan distribusi dan pemasaran produk hasil riset yang memerlukan edukasi pasar tinggi.
Risiko lainnya meliputi potensi gangguan pasokan bahan baku dan ketergantungan pada pelanggan tertentu. Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah menjadi perhatian karena rencana pembelian peralatan produksi impor.
Perseroan juga menyoroti risiko hukum dan perubahan regulasi pemerintah yang dapat menghambat peluncuran produk baru. Investor turut diingatkan mengenai risiko fluktuasi harga saham di pasar sekunder setelah pencatatan perdana.






