Bursa Saham

Haji Isam Borong 30 Persen Saham BYAN, Siapa Pengendali Barunya?

44
×

Haji Isam Borong 30 Persen Saham BYAN, Siapa Pengendali Barunya?

Sebarkan artikel ini
Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama mengakuisisi 30 persen saham PT Bayan Resources Tbk milik Low Tuck Kwong.
Haji Isam resmi mengakuisisi 30 persen saham PT Bayan Resources Tbk dari Dato' Low Tuck Kwong.

JAKARTA – Komposisi pemegang saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) bakal mengalami perubahan signifikan menyusul rencana akuisisi 30% saham oleh pengusaha Andi Syamsudin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam. Transaksi tersebut dilakukan melalui entitas bisnisnya, PT Jhonlin Baratama.

Berdasarkan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat yang diteken pada 16 September 2026, PT Jhonlin Baratama akan mengakuisisi 10.000.000.500 lembar saham BYAN. Saham tersebut dibeli langsung dari Dato’ Low Tuck Kwong dan Elaine Low.

Jumlah saham yang dialihkan setara dengan 30% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh dalam perusahaan tambang batu bara tersebut. Meski demikian, manajemen Bayan Resources mengaku belum mengetahui nilai transaksi maupun jadwal penyelesaian aksi korporasi ini.

Manajemen BYAN menegaskan bahwa hingga saat ini, belum ada informasi tambahan mengenai status pemenuhan kondisi pendahuluan transaksi. Pernyataan tersebut disampaikan perseroan dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (27/9).

Meski porsi kepemilikan saham berubah, manajemen memastikan Low Tuck Kwong tetap menjadi pemegang saham utama sekaligus pengendali Bayan Resources. Tidak ada perubahan status pengendalian setelah transaksi tersebut rampung.

Setelah transaksi selesai, Low Tuck Kwong akan memiliki 6.951.170.541 saham atau sekitar 20,853%. Sementara itu, Elaine Low akan memegang 3.799.584.529 saham atau setara 11,399%.

Berdasarkan data per 31 Agustus 2026, pemegang saham lainnya terdiri dari PT Sumber Suryadana Prima sebesar 10% dan publik sebesar 21,3%. Sisanya dimiliki oleh jajaran direksi dan komisaris, seperti Lim Chai Hock sebesar 3,26% dan Jenny Quantero sebesar 2,8%.

Terkait susunan pengurus, manajemen menyatakan belum ada rencana perubahan direksi maupun dewan komisaris. Perseroan juga belum menerima permintaan untuk menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) guna membahas pergantian pengurus.

Bursa Efek Indonesia sebelumnya telah meminta penjelasan mengenai strategi bisnis jangka panjang pasca-transaksi. Hal ini mencakup rencana peningkatan produksi, belanja modal, hingga potensi sinergi dengan grup usaha Haji Isam.

Namun, manajemen BYAN belum dapat memberikan komentar lebih lanjut karena transaksi belum bersifat final. Perseroan juga menegaskan tidak terlibat langsung dalam proses negosiasi tersebut.

Proses jual beli saham sepenuhnya dilakukan oleh pihak penjual tanpa melibatkan jajaran direksi dan komisaris perseroan, kecuali Dato’ Low Tuck Kwong. Hingga saat ini, belum ada pembahasan resmi antara pihak manajemen dengan PT Jhonlin Baratama terkait rencana operasional ke depan.

Masuknya Haji Isam ke dalam struktur pemegang saham BYAN terus menjadi sorotan pelaku pasar di tengah volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Investor kini menantikan kejelasan mengenai dampak aksi korporasi ini terhadap arah kebijakan bisnis emiten tersebut di masa depan.