JAKARTA – Nilai tukar rupiah di pasar spot kembali menunjukkan tren pelemahan pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Hingga pukul 12.11 WIB, mata uang Garuda tercatat berada di level Rp 17.749 per dolar Amerika Serikat (AS).
Posisi tersebut mencerminkan depresiasi sebesar 0,30% dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya yang berada di angka Rp 17.696 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen penguatan indeks dolar AS yang terpantau bergerak naik.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan mata uang Paman Sam terhadap sejumlah mata uang utama dunia, berada di level 100,26. Angka tersebut sedikit meningkat dari posisi sebelumnya yang tercatat di level 100,25.
Tekanan terhadap mata uang domestik ini sejalan dengan tren pelemahan yang melanda mayoritas mata uang di kawasan Asia pada perdagangan siang hari ini. Para pelaku pasar tampak merespons dinamika ekonomi global yang memengaruhi aliran modal di pasar keuangan regional.
Ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan pelemahan paling dalam di Asia, yakni sebesar 0,52%. Won Korea menyusul di posisi berikutnya dengan koreksi sebesar 0,43% terhadap dolar AS.
Selain rupiah, beberapa mata uang lain di kawasan juga mencatatkan pelemahan. Dolar Taiwan melemah 0,26%, peso Filipina turun 0,06%, baht Thailand terkoreksi 0,04%, dan dolar Hong Kong melemah tipis 0,008%.
Di sisi lain, tidak semua mata uang Asia berada dalam tekanan dolar AS. Beberapa mata uang justru menunjukkan kinerja positif di tengah fluktuasi pasar yang terjadi.
Yen Jepang tercatat menguat 0,17% terhadap dolar AS. Rupee India juga berhasil mencatatkan apresiasi sebesar 0,16%, sementara dolar Singapura menguat 0,11%.
Khusus untuk yuan China, pergerakan mata uang tersebut terpantau stagnan pada perdagangan siang ini. Kondisi ini menunjukkan adanya keberagaman respons pasar mata uang Asia terhadap penguatan indeks dolar AS.
Secara makro, volatilitas nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang kuat. Penguatan indeks dolar AS sering kali menjadi katalis utama bagi pelemahan mata uang di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Investor kini tengah memantau perkembangan kebijakan moneter global yang berdampak pada stabilitas pasar keuangan. Fluktuasi ini menjadi tantangan tersendiri bagi otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Sementara itu, di sektor pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan arah yang berbeda dengan pasar uang. IHSG terpantau menguat 0,42% ke level 6.463 pada penutupan sesi pertama perdagangan hari ini.
Beberapa saham yang menjadi pendorong utama kenaikan indeks di kelompok LQ45 antara lain CUAN, ADMR, dan ADRO. Perbedaan pergerakan antara pasar mata uang dan pasar saham ini mencerminkan dinamika investasi yang berbeda di dalam negeri.




