JAKARTA – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia resmi melakukan transformasi strategis bisnis dengan memperkuat layanan wealth management. Langkah ini diambil untuk menjawab pergeseran tren investasi serta memenuhi kebutuhan nasabah yang semakin kompleks di tengah kondisi ekonomi global yang fluktuatif.
Direktur PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Tomi Taufan, menyatakan bahwa model bisnis perantara pedagang efek tradisional yang hanya berfokus pada instrumen saham kini tidak lagi memadai. Perusahaan kini beralih dari model product-centric menjadi client-centric untuk mengakomodasi kelas konsumen affluent yang terus berkembang.
Pendekatan client-centric ini memprioritaskan profil risiko dan tujuan investasi nasabah di atas segalanya. Strategi ini dirancang agar portofolio nasabah tidak hanya mengejar imbal hasil, tetapi juga mampu menjaga ketahanan aset dari volatilitas pasar.
Transformasi ini didukung oleh infrastruktur jaringan Mirae Asset yang mencakup 24 Office Education di berbagai wilayah strategis Indonesia. Selain itu, perusahaan mengandalkan koneksi global yang tersebar di 47 negara untuk memperluas akses investasi nasabah.
Mirae Asset melihat adanya kebutuhan besar bagi investor High-Net-Worth (HNW) di Indonesia yang mengalokasikan 31% kekayaannya di pasar luar negeri. Untuk memfasilitasi hal tersebut, nasabah kini diberikan akses langsung ke lini produk Global X yang menawarkan 769 instrumen Exchange Traded Fund (ETF) dengan total AUA mencapai USD275 miliar.
Integrasi teknologi menjadi pilar utama dalam strategi ini melalui aplikasi M-STOCK. Platform tersebut memungkinkan nasabah untuk melakukan konsolidasi portofolio, mulai dari saham, reksa dana, hingga obligasi, dalam satu antarmuka yang terpusat.
Langkah strategis ini dilakukan di tengah dinamika pasar modal yang semakin selektif bagi para investor. Fenomena serupa juga terjadi secara global, di mana banyak investor cenderung menahan porsi kas yang besar karena kurangnya pilihan instrumen yang tepat dalam pengelolaan kekayaan.
Di Korea Selatan, induk perusahaan Mirae Asset juga terus memperluas ekosistem keuangan digitalnya. Salah satu langkah konkretnya adalah akuisisi dan rebranding bursa kripto Korbit menjadi Digital X, yang diproyeksikan sebagai hub untuk aset tokenisasi dan keuangan digital.
Meski demikian, Mirae Asset tetap menghadapi tantangan operasional dalam ekspansi globalnya. Perusahaan sempat mengalami kendala komunikasi yang menyebabkan kegagalan alokasi saham perdana (IPO) SpaceX, sebuah insiden yang memicu evaluasi internal mendalam terkait prosedur layanan investasi mereka.
Di tengah tantangan tersebut, Mirae Asset berkomitmen untuk tetap fokus pada penyediaan advisory yang terukur. Perusahaan memastikan bahwa kombinasi antara teknologi digital onboarding dan layanan prioritas akan menjadi keunggulan kompetitif utama di pasar domestik.
Tomi menegaskan bahwa tujuan utama layanan ini adalah membantu nasabah agar aset mereka tidak tergerus oleh fluktuasi pasar. Dengan racikan produk yang tepat, Mirae Asset menargetkan pencapaian return yang optimal sekaligus memberikan perlindungan kekayaan yang berkelanjutan bagi nasabah.






