Energi

Harga Minyak Turun Tipis Usai Trump Komentari Serangan ke Iran

46
×

Harga Minyak Turun Tipis Usai Trump Komentari Serangan ke Iran

Sebarkan artikel ini
Grafik pergerakan harga minyak mentah dunia di layar monitor perdagangan
Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tipis setelah pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait konflik dengan Iran.

SINGAPURA – Harga minyak mentah dunia mencatatkan penurunan tipis pada perdagangan Kamis (3/9/2026), merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai durasi konflik dengan Iran yang diprediksi tidak akan berlangsung lama.

Harga minyak Brent terkoreksi 0,4 persen menjadi US$ 95,20 per barel pada pukul 08.16 waktu Singapura. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 0,3 persen ke posisi US$ 90,76 per barel.

Sentimen pasar dipengaruhi oleh jaminan dari pejabat Amerika Serikat bahwa arus distribusi energi melalui Selat Hormuz tetap berjalan. Hal ini memberikan sedikit ketenangan di tengah ketegangan geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Presiden Trump menyatakan bahwa serangan terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung dalam jangka waktu panjang. Meski demikian, ia menegaskan kesiapan militer AS untuk kembali melakukan tindakan serupa jika diperlukan.

Sepanjang tahun ini, harga minyak mentah telah mengalami lonjakan signifikan sebesar hampir 60 persen. Kenaikan harga juga terjadi pada produk olahan seperti diesel akibat dampak akumulatif dari konflik Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.

Eskalasi terbaru dipicu oleh serangan Iran yang meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah. Aksi ini merupakan respons atas serangan AS yang terjadi setelah beberapa pekan situasi relatif tenang.

Analis dari BOK Financial Securities Inc., Dennis Kissler, menilai bahwa pasar sebenarnya masih mendapat dukungan dari eskalasi ini. Namun, ia mencatat bahwa kedua belah pihak kemungkinan sedang mencari jalan keluar diplomatik yang dapat menekan harga dengan cepat.

Hingga saat ini, baik AS maupun Iran belum menunjukkan sinyal kesediaan untuk kembali ke meja perundingan. Proses damai diketahui mengalami kebuntuan sejak kesepakatan sementara yang dicapai pada Juni lalu runtuh.

Di sisi operasional, militer AS terus melakukan pengawalan ketat terhadap kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz. Sebanyak 40 kapal yang membawa 18 juta barel minyak telah berhasil melewati jalur tersebut dengan aman.

Data dari Menteri Energi AS, Chris Wright, menunjukkan pengiriman minyak mentah dari Teluk Persia tetap konsisten. Arus pengiriman tercatat stabil di angka rata-rata 8 juta barel per hari, dengan total 17 juta barel minyak keluar melalui jalur tersebut pekan ini.

CEO Chevron Corp., Mike Wirth, menyatakan pasar minyak global mulai mendekati titik keseimbangan seiring berjalannya pasokan dari Teluk Persia. Meski demikian, ia menekankan bahwa risiko ketegangan antara AS dan Iran tetap menjadi variabel yang mengkhawatirkan.

Kondisi pasokan di Amerika Serikat sendiri menunjukkan dinamika yang beragam. Persediaan minyak mentah AS turun 4,5 juta barel pada pekan lalu, menandai penurunan pertama sejak akhir Juli menurut data Energy Information Administration (EIA).

Sementara itu, stok di pusat penyimpanan utama Cushing, Oklahoma, tercatat naik tipis menjadi 22,5 juta barel. Sebaliknya, stok bensin di tingkat nasional justru mengalami penurunan, menambah tekanan pada volatilitas harga bahan bakar di pasar domestik AS.