JAKARTA – Harga minyak mentah dunia melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Jumat (28/8/2026). Sentimen pasar saat ini dibayangi oleh kondisi cadangan minyak strategis Amerika Serikat (AS) yang merosot ke level terendah dalam empat dekade terakhir.
Data Trading Economics per pukul 17.32 WIB mencatat harga minyak mentah jenis WTI berada di level US$ 83,27 per barel. Angka tersebut terkoreksi 0,31% secara harian dan mencatatkan penurunan 4,51% dalam sepekan terakhir.
Harga minyak Brent juga mengalami tekanan serupa dengan bertengger di posisi US$ 88,30 per barel. Komoditas ini tercatat turun 0,21% secara harian dan melemah 6,60% dalam periode mingguan.
Penurunan cadangan Strategic Petroleum Reserve (SPR) milik AS menjadi perhatian utama pelaku pasar. Stok cadangan tersebut kini dilaporkan berada di bawah angka 300 juta barel.
Posisi cadangan yang menipis ini secara langsung membatasi ruang gerak AS dalam merespons potensi gangguan pasokan global. Pasar kini menaruh perhatian besar pada data persediaan minyak mentah dan produk sulingan dari Energy Information Administration (EIA) AS.
Tekanan pada sisi pasokan semakin diperparah dengan catatan stok distilat AS yang sempat menyentuh level terendah sepanjang sejarah pencatatan untuk periode yang sama. Kondisi ini memperlihatkan kerentanan pada rantai pasok energi global yang masih belum pulih sepenuhnya.
Faktor geopolitik tetap menjadi variabel yang sulit diprediksi dalam menentukan arah harga ke depan. Meskipun konflik Rusia-Ukraina saat ini tidak menjadi pemicu utama volatilitas, risiko sanksi energi tetap membayangi pasar.
Kebijakan Washington terhadap Teheran menjadi poin krusial lain yang dipantau investor. Ketegangan yang masih berlangsung dengan Iran berpotensi memicu eskalasi harga jika proses negosiasi menemui jalan buntu.
Selain geopolitik, keputusan produksi dari kelompok OPEC+ juga menjadi penentu keseimbangan pasar. Kebijakan suku bunga bank sentral AS, The Fed, turut memberi pengaruh signifikan terhadap permintaan energi global dan fluktuasi nilai tukar dolar AS.
Proyeksi harga minyak hingga akhir 2026 diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang yang cukup luas. Brent diprediksi berada pada kisaran US$ 75 hingga US$ 95 per barel, dengan skenario dasar di angka US$ 80 per barel.
Sementara itu, harga WTI diproyeksikan berfluktuasi di rentang US$ 70 hingga US$ 88 per barel. Analis memperingatkan bahwa risiko kenaikan harga tetap terbuka lebar jika terjadi eskalasi geopolitik yang mendadak.
Gangguan pada jalur distribusi vital seperti Selat Hormuz menjadi ancaman terbesar bagi stabilitas harga minyak. Dalam skenario ekstrem, hambatan tersebut berpotensi mendorong harga Brent menembus level US$ 130 per barel hingga tahun 2027 mendatang.






