JAKARTA – Sektor bisnis alat berat di Indonesia menghadapi tantangan berat sepanjang tahun 2026 akibat penurunan aktivitas di industri pertambangan. Pelemahan ini dipicu oleh kebijakan pemangkasan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan yang berdampak langsung pada permintaan unit baru.
Direktur PT Intraco Penta Tbk (INTA), Willianto Febriansa, menyatakan bahwa tekanan tersebut telah tercermin dalam kinerja keuangan perseroan pada kuartal II-2026. Perusahaan mencatat penurunan penjualan sebesar 11% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pemangkasan kuota produksi tambang memaksa perusahaan pertambangan melakukan efisiensi belanja modal atau capital expenditure (capex). Kondisi ini menyebabkan banyak pelaku usaha menunda pembelian alat berat baru hingga situasi pasar membaik.
Selain penundaan investasi pada unit baru, utilisasi alat berat yang sudah beroperasi di lapangan juga mengalami penurunan. Hal ini menandakan adanya penyesuaian skala produksi yang masif di sektor pertambangan nasional.
Kenaikan biaya bahan bakar minyak (BBM) turut memperburuk beban operasional emiten alat berat di tengah lesunya permintaan. Kombinasi faktor tersebut membuat pelaku industri memproyeksikan kinerja penjualan hingga akhir 2026 akan lebih rendah dibandingkan realisasi tahun 2025.
Fenomena ini tidak hanya dialami oleh INTA, namun juga dirasakan secara luas oleh berbagai emiten penyedia alat berat lainnya. Tekanan pada sektor pertambangan batubara, khususnya terkait regulasi RKAB, menjadi katalis utama yang menekan performa industri pendukungnya.
Sebagai perbandingan, PT United Tractors Tbk (UNTR) sebelumnya juga melaporkan penurunan laba bersih sebesar 48% pada semester I-2026. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh dinamika RKAB batubara serta fluktuasi pada segmen penjualan emas.
Di sisi lain, kondisi makroekonomi turut memberikan tekanan tambahan bagi para pelaku usaha di Indonesia. Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (25/8/2026) bergerak terbatas di level Rp 17.723 per dolar AS di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Kondisi ini menuntut perusahaan alat berat untuk melakukan langkah strategis guna menjaga keberlangsungan bisnis. Fokus pada efisiensi operasional dan optimalisasi portofolio bisnis menjadi langkah krusial untuk menghadapi tantangan hingga penghujung tahun.
Sepanjang tahun 2025, INTA sempat mencatatkan pendapatan usaha konsolidasian sebesar Rp 966,92 miliar dengan kerugian bersih yang berhasil ditekan menjadi Rp 81,09 miliar. Namun, dengan kondisi pasar pertambangan yang masih lesu pada paruh kedua 2026, tantangan untuk mempertahankan pertumbuhan pendapatan tetap menjadi agenda utama bagi perusahaan.
Pemerintah daerah saat ini juga tengah menyoroti dampak dari pemangkasan kuota produksi batubara terhadap tenaga kerja lokal. Legislator di sejumlah daerah, seperti Barito Utara, mulai mendorong langkah antisipatif untuk melindungi pekerja lokal dari potensi pemutusan hubungan kerja akibat perlambatan aktivitas pertambangan.






