JAKARTA – Industri alat berat nasional diproyeksikan masih menghadapi tantangan berat hingga pengujung tahun 2026. Pengetatan kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan menjadi faktor utama yang menghambat ekspansi pelaku usaha di sektor ini.
Ketidakpastian kuota produksi memaksa sejumlah perusahaan tambang menahan belanja modal. Kondisi ini secara langsung berdampak pada penundaan pembelian unit alat berat baru di pasar domestik.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menyatakan bahwa prospek industri ini masih akan menantang sepanjang sisa tahun 2026. Faktor fluktuasi harga bahan bakar minyak (BBM) memperburuk beban operasional yang harus ditanggung perusahaan tambang.
Ketika biaya operasional membengkak, perusahaan cenderung menunda aktivitas produksi maupun ekspansi. Hal tersebut menyebabkan penurunan permintaan terhadap alat berat secara signifikan.
Data mencatat perbedaan kinerja yang tajam di antara emiten alat berat pada semester I-2026. PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) mampu mencatatkan pertumbuhan penjualan unit sebesar 47% secara tahunan.
Sebaliknya, PT Intraco Penta Tbk (INTA) mengalami penurunan penjualan sebesar 11% pada kuartal II-2026. PT United Tractors Tbk (UNTR) juga mencatat penurunan penjualan barang sebesar 27,83% menjadi Rp 28,13 triliun.
Perbedaan performa tersebut dipengaruhi oleh karakteristik produk dan segmen pasar yang disasar masing-masing perusahaan. KOBX berhasil tumbuh berkat penetrasi lini hybrid dump truck yang menawarkan efisiensi bahan bakar lebih tinggi.
Sementara itu, portofolio UNTR dan INTA masih didominasi alat berat konvensional berbahan bakar diesel berkapasitas besar. Segmen ini terbukti lebih rentan terhadap ketidakpastian kuota produksi pertambangan.
Diversifikasi pasar kini menjadi strategi krusial bagi emiten untuk menjaga stabilitas arus kas. Sektor non-tambang seperti infrastruktur, agribisnis, kehutanan, dan intralogistik dipandang sebagai penyangga utama.
Sektor-sektor tersebut memberikan alternatif permintaan yang tidak sepenuhnya bergantung pada siklus pertambangan. Hal ini menjadi kunci bagi emiten untuk bertahan di tengah perlambatan pasar komoditas.
Peluang pemulihan pada semester II-2026 masih terbuka lebar dengan beberapa syarat utama. Kebijakan pemerintah dalam melonggarkan atau merevisi kuota RKAB menjadi katalis yang paling dinantikan pelaku pasar.
Jika kuota produksi meningkat, aktivitas tambang akan kembali bergairah dan memicu kebutuhan alat berat. Penurunan harga BBM juga diharapkan dapat meringankan beban biaya operasional di lapangan.
Investor disarankan untuk tetap mencermati saham emiten dengan fundamental yang kuat di tengah situasi pasar yang menantang. UNTR menjadi pilihan utama dengan rekomendasi buy dan target harga Rp 28.000 per saham.
Rekomendasi tersebut didasarkan pada skala bisnis UNTR yang besar serta diversifikasi usaha yang lebih matang. Sementara itu, investor perlu memantau ketat efektivitas strategi efisiensi yang dilakukan emiten lainnya dalam menanggapi dinamika pasar.





