JAKARTA – Prospek perbaikan likuiditas pasar global kini menjadi fokus utama pelaku pasar valuta asing. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuka ruang penguatan bagi mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia (AUD), dolar Kanada (CAD), dan dolar Selandia Baru (NZD).
Meskipun demikian, tekanan dari dolar Amerika Serikat (USD) masih menjadi variabel dominan yang perlu diwaspadai. Berdasarkan data perdagangan Jumat (28/8/2026), pasangan AUD/USD ditutup pada level 0,7161, atau terkoreksi 0,45% secara harian.
Pasangan mata uang NZD/USD juga mencatatkan penurunan sebesar 0,61% ke level 0,5914. Di sisi lain, USD/CAD justru menunjukkan penguatan sebesar 0,33% ke level 1,3900.
Analis mata uang Wahyu Laksono menilai bahwa perbaikan likuiditas global adalah katalis kunci bagi mata uang komoditas. Hal ini berkaitan erat dengan perubahan sentimen investor terhadap aset-aset berisiko di pasar keuangan internasional.
Wahyu menjelaskan bahwa mata uang seperti AUD merespons dengan cepat terhadap pelonggaran likuiditas yang dipicu oleh kebijakan pembelian kembali atau buyback US Treasury. Fenomena ini juga sering kali dibarengi dengan pelemahan indeks dolar AS (DXY).
Kebijakan buyback US Treasury dinilai mampu memengaruhi ketersediaan likuiditas global secara signifikan. Perubahan ini secara otomatis mengubah selera risiko investor dalam menempatkan modal mereka.
Mata uang dengan karakter risk-beta tinggi, seperti AUD, cenderung lebih responsif saat likuiditas global melonggar. Investor biasanya mulai berani meningkatkan eksposur pada aset-aset yang lebih berisiko dalam periode tersebut.
Di sisi lain, pergerakan imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun tetap menjadi perhatian ketat pasar. Pada penutupan Jumat (28/8/2026), yield tersebut berada di level 4,717% setelah mengalami kenaikan 0,04 poin persentase.
Fluktuasi yield ini secara langsung memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar AS. Kondisi ini kemudian menentukan arah indeks dolar AS (DXY) di pasar global.
Jika tekanan terhadap dolar AS terus berlanjut, ruang bagi penguatan mata uang komoditas akan semakin terbuka lebar. Investor diprediksi akan lebih berani masuk ke aset yang sensitif terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.
Kendati demikian, keberlanjutan tren ini sangat bergantung pada stabilitas likuiditas global. Ekspektasi terhadap kebijakan moneter Amerika Serikat dapat memicu volatilitas pasar sewaktu-waktu.
Risiko utama yang patut diwaspadai adalah potensi lonjakan inflasi energi yang dapat memicu kembali sikap hawkish dari The Federal Reserve. Jika hal itu terjadi, DXY berpotensi menguat kembali dan menekan posisi mata uang komoditas.
Selain itu, eskalasi ketegangan geopolitik global tetap menjadi faktor risiko yang signifikan. Ketidakpastian geopolitik biasanya akan memicu permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS, yang pada akhirnya akan menekan mata uang berbasis komoditas.






