Bursa Saham

Pendapatan Bakrie & Brothers Tumbuh 45,8 Persen di Semester I 2026

41
×

Pendapatan Bakrie & Brothers Tumbuh 45,8 Persen di Semester I 2026

Sebarkan artikel ini
Logo PT Bakrie & Brothers Tbk di kantor pusat perusahaan
PT Bakrie & Brothers Tbk mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 45,8 persen pada semester I-2026.

JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) mencatatkan kinerja keuangan impresif sepanjang semester I-2026 dengan lonjakan pendapatan bersih mencapai Rp2,59 triliun. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 45,84% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di angka Rp1,77 triliun.

Peningkatan pendapatan ini juga diikuti oleh penguatan laba usaha perusahaan yang tercatat sebesar Rp301,53 miliar. Capaian ini melonjak signifikan sebesar 283,21% dibandingkan posisi semester I-2025 yang hanya mencapai Rp78,68 miliar.

Selain itu, BNBR berhasil mencatatkan EBITDA positif senilai Rp423,04 miliar. Angka tersebut naik drastis sebesar 230,93% dari perolehan tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp127,83 miliar.

Direktur Utama & CEO BNBR, Anindya N. Bakrie, menyatakan bahwa pertumbuhan positif ini diraih di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian. Ia menyebut hasil ini sebagai bukti nyata atas strategi resiliensi dan adaptabilitas yang diterapkan perusahaan.

Kenaikan pendapatan bersih tersebut didorong oleh kontribusi dari berbagai unit usaha strategis. PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN) Group mencatat kenaikan pendapatan sebesar Rp450,76 miliar atau 256,1%.

Pertumbuhan ini dipicu oleh dampak konsolidasi PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT). Selain itu, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) Group mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar Rp232,58 miliar atau 56,2%.

Unit usaha lainnya, PT Bakrie Metal Industries (BMI) Group, turut menyumbang pertumbuhan dengan kenaikan pendapatan sebesar Rp120,96 miliar atau 10,2%. Kontribusi ini memperkuat posisi keuangan perusahaan secara keseluruhan.

Direktur BNBR, Roy Hendrajanto M. Sakti, mengungkapkan bahwa perusahaan kini memiliki struktur keuangan yang lebih kokoh. Portofolio infrastruktur strategis, seperti jalan tol dan pipanisasi minyak serta gas, menjadi pilar utama pertumbuhan berkelanjutan.

Meski demikian, Roy mengakui adanya penurunan pada laba bersih perusahaan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT pada tahun-tahun awal pasca-akuisisi.

Sebagai langkah penguatan modal, BNBR juga telah sukses melaksanakan Penambahan Modal Dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Aksi korporasi yang rampung pada akhir Juli 2026 ini berhasil menghimpun dana segar sebesar Rp4,76 triliun.

Wakil Direktur Utama & Co-CEO BNBR, A. Ardiansyah Bakrie, menegaskan komitmen perusahaan untuk terus berekspansi di sektor industri masa depan. Fokus utama pengembangan mencakup sektor elektrifikasi transportasi dan energi berkelanjutan.

Langkah strategis ini diharapkan mampu memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham. Selain itu, BNBR berkomitmen untuk terus mendukung pembangunan nasional melalui proyek-proyek infrastruktur strategis yang dikelola.