Bursa Saham

Bursa Asia Bergerak Variatif, Mayoritas Indeks Melemah Pagi Ini

81
×

Bursa Asia Bergerak Variatif, Mayoritas Indeks Melemah Pagi Ini

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar monitor yang menunjukkan pergerakan grafik indeks harga saham di bursa efek.
Pergerakan bursa saham Asia terpantau variatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Jumat pagi.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan pada pembukaan perdagangan Jumat (21/8/2026), berbeda arah dengan mayoritas bursa saham di kawasan Asia yang cenderung melemah. Pada pukul 09.00 WIB, IHSG tercatat naik 24,17 poin atau 0,37% ke level 6.522,73.

Di sisi lain, bursa regional Asia bergerak variatif dengan kecenderungan terkoreksi. Indeks Nikkei 225 di Jepang terpantau turun 0,86% ke 65.645,56, sementara indeks ASX 200 Australia melemah 0,16% ke 9.069,60.

Sebaliknya, beberapa indeks lain berhasil mencatatkan penguatan tipis. Indeks Hang Seng naik 0,77% ke 25.893,71, Kospi Korea Selatan menguat 0,59% ke 6.893,60, serta Taiex dan Straits Times masing-masing tumbuh 0,08% dan 0,11%.

Secara keseluruhan, pasar saham Asia saat ini berada di bawah bayang-bayang tekanan pasar obligasi global. Ketidakpastian mengenai kebijakan fiskal Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak akibat ketegangan di kawasan Teluk menjadi sentimen utama yang memicu keraguan investor.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) kembali mengalami kenaikan signifikan pasca-intervensi Departemen Keuangan AS. Upaya stabilisasi yang dilakukan otoritas fiskal AS dinilai pasar belum cukup kuat untuk meredam sentimen negatif.

Para analis menyoroti keraguan pasar terhadap kemampuan pemerintah AS dalam menekan defisit anggaran yang kini melampaui 6% dari PDB. Beban bunga utang yang mencapai US$ 1,2 triliun tahun ini turut menambah kekhawatiran mengenai kredibilitas fiskal jangka panjang.

Steven Zeng, ahli strategi dari Deutsche Bank, menyatakan bahwa pasar cenderung melawan kebijakan intervensi jika fundamental ekonomi dianggap tidak mendukung. Kekhawatiran akan terkikisnya kepercayaan terhadap kerangka kerja Departemen Keuangan AS menjadi risiko tambahan bagi stabilitas pasar.

Akibatnya, imbal hasil obligasi tenor 30 tahun kembali terdorong ke level 5,25%, sementara tenor 10 tahun menyentuh 4,71%. Investor kini menganggap level 5,30% sebagai ambang batas tekanan kritis bagi Departemen Keuangan AS.

Kenaikan imbal hasil obligasi ini memperburuk biaya utang global, yang berdampak langsung pada sektor teknologi. Perusahaan-perusahaan besar yang mengandalkan pendanaan eksternal untuk belanja modal kecerdasan buatan (AI) menghadapi beban diskonto yang lebih tinggi terhadap proyeksi laba mereka.

Tekanan tersebut tercermin pada kinerja mingguan indeks Nikkei yang telah terkoreksi sebesar 4,4%. Meskipun pasar Korea Selatan dan Taiwan sempat menunjukkan pemulihan tipis pada sesi pagi, tren penurunan mingguan tetap membayangi kedua bursa tersebut.

Sementara itu, data inflasi inti Jepang yang meningkat pada Juli turut memberikan tekanan tambahan. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank of Japan akan segera menaikkan suku bunga menjadi 1,25% pada pertemuan September mendatang guna merespons kenaikan biaya impor.