Multifinance

BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Perusahaan Multifinance Tetap Selektif Terbitkan Obligasi

26
×

BI Tahan Suku Bunga 5,75%, Perusahaan Multifinance Tetap Selektif Terbitkan Obligasi

Sebarkan artikel ini
Gedung Bank Indonesia di Jakarta dengan latar belakang aktivitas ekonomi kota
Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%.

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% pada Selasa (6/10/2026). Kebijakan moneter ini berdampak langsung pada strategi pendanaan sektor industri keuangan non-bank, khususnya perusahaan multifinance.

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menilai keputusan tersebut mendorong perusahaan multifinance untuk bersikap lebih selektif dan hati-hati dalam menerbitkan obligasi baru. Meski demikian, kebutuhan pendanaan operasional memastikan bahwa aksi korporasi di pasar obligasi tetap berjalan.

Analis Pefindo menyatakan bahwa langkah BI mempertahankan suku bunga bertujuan utama untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah tekanan ekonomi global. Kebijakan ini dinilai mampu meredam risiko kenaikan biaya dana tambahan bagi perusahaan dalam jangka pendek.

Namun, beban biaya penerbitan surat utang saat ini masih tergolong tinggi dibandingkan awal tahun 2026 yang berada di angka 4,75%. Kondisi ini membuat biaya pendanaan bagi multifinance belum kembali ke level yang lebih kompetitif.

Strategi penerbitan obligasi kini sangat bergantung pada kebutuhan likuiditas masing-masing perusahaan. Perusahaan multifinance yang memerlukan dana untuk kebutuhan refinancing atau modal kerja tetap memiliki alasan kuat untuk masuk ke pasar.

Sebaliknya, perusahaan dengan posisi likuiditas yang memadai cenderung memilih untuk menunda aksi korporasi. Mereka menunggu kondisi yield atau imbal hasil obligasi pemerintah yang lebih kondusif sebelum melepas instrumen utang ke publik.

Keputusan penerbitan obligasi kini tidak lagi hanya bertumpu pada BI Rate sebagai tolok ukur tunggal. Faktor pendukung lain yang turut memengaruhi meliputi minat investor, stabilitas yield obligasi pemerintah, serta perbandingan biaya pendanaan dari sektor perbankan.

Pola kehati-hatian ini tercermin dalam kinerja pasar surat utang sepanjang tahun berjalan. Pefindo mencatat total penerbitan surat utang multifinance hingga September 2026 mencapai Rp 19,62 triliun.

Angka tersebut menunjukkan penurunan signifikan sebesar 33,1% dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pada September 2025, total penerbitan surat utang di industri ini sempat menyentuh angka Rp 29,33 triliun.

Kondisi ekonomi global saat ini turut memberikan tekanan tambahan bagi pasar keuangan domestik. Beberapa bank sentral dunia, termasuk Federal Reserve di Amerika Serikat, terpantau masih mengadopsi kebijakan suku bunga yang ketat guna menekan inflasi.

Federal Reserve sendiri sempat menaikkan suku bunga ke kisaran 3,75% hingga 4,00% untuk merespons inflasi yang persisten. Kebijakan tersebut memengaruhi sentimen pasar global dan menciptakan volatilitas pada pasar obligasi di berbagai negara berkembang.

Di tengah ketidakpastian tersebut, perusahaan multifinance di Indonesia kini lebih cermat dalam menentukan tenor dan nilai emisi. Momentum penerbitan menjadi kunci utama agar perusahaan tetap dapat memenuhi target pendanaan dengan biaya yang terukur.