Investasi

Pilih Dividen Interim atau SBN Ritel? Simak Perbandingan Imbal Hasilnya

40
×

Pilih Dividen Interim atau SBN Ritel? Simak Perbandingan Imbal Hasilnya

Sebarkan artikel ini
Grafik perbandingan investasi antara dividen saham emiten BEI dan imbal hasil SBN ritel untuk investor
Investor mulai membandingkan potensi imbal hasil dividen interim saham dengan instrumen SBN ritel.

JAKARTA – Memasuki pertengahan kuartal III 2026, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menebar dividen interim sebagai bentuk apresiasi kepada pemegang saham. Fenomena ini memicu perdebatan di kalangan investor mengenai daya tarik dividen saham dibandingkan dengan instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang kini menawarkan imbal hasil kompetitif.

PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) menjadi salah satu emiten yang mencuri perhatian dengan rencana pembagian dividen interim sebesar Rp 611,93 per saham. Berdasarkan harga penutupan Rabu (7/10/2026) di level Rp 8.675, estimasi dividend yield GEMS mencapai 7,05%.

Selain GEMS, PT Teladan Prima Agro Tbk (TLDN) juga dijadwalkan membagikan dividen sebesar Rp 20 per saham dengan estimasi yield 3,33%. Sementara itu, PT Plaza Indonesia Realty Tbk (PLIN) menetapkan dividen interim Rp 76 per saham atau setara yield 3,03%.

Di sisi lain, pemerintah saat ini menawarkan SBN ritel seri SBR015 dengan kupon 6,75% untuk tenor dua tahun dan 6,85% untuk tenor empat tahun. Instrumen ini menggunakan skema floating with floor, yang memberikan perlindungan bagi investor terhadap fluktuasi suku bunga.

Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, menegaskan bahwa perbandingan yield semata tidak cukup untuk menentukan arah investasi. SBN ritel tetap memiliki keunggulan kompetitif karena nilai pokok dan kuponnya dijamin penuh oleh undang-undang.

“Risiko keduanya berbeda. Kupon dan pokok SBN dijamin pemerintah, sementara pada saham investor tetap menghadapi volatilitas harga pasar,” ujar Rully pada Rabu (7/10/2026).

Menurut Rully, investor perlu mencermati aspek fundamental perusahaan sebelum memutuskan masuk ke saham pembagi dividen. Faktor yang harus diperhatikan mencakup arus kas, rasio pembayaran dividen, prospek industri, serta keberlanjutan laba perusahaan.

Ia juga mengingatkan bahwa dividend yield yang tinggi tidak menjamin total return yang positif. Setelah tanggal cum date, harga saham umumnya akan terkoreksi menyesuaikan besaran dividen yang dibayarkan.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Nico Demus, menambahkan bahwa dividen tinggi hanya menjadi peluang menarik jika didukung oleh sentimen pasar yang kondusif. Jika kondisi global dan domestik tidak stabil, potensi pemulihan harga saham pasca-pembagian dividen menjadi terbatas.

Nico memproyeksikan investor ritel cenderung tetap mempertahankan porsi portofolio di instrumen pendapatan tetap. Tingginya imbal hasil Treasury Amerika Serikat turut menjaga daya saing obligasi dibandingkan aset berisiko.

Selain deretan emiten tersebut, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga menjadi sorotan setelah memutuskan membagikan dividen interim senilai Rp 6,16 triliun atau Rp 66 per saham. Langkah ini dinilai memperkuat daya tarik saham perbankan di tengah kinerja perseroan yang tetap solid pada tahun 2026.

Secara keseluruhan, pasar modal Indonesia saat ini menawarkan berbagai pilihan bagi investor di tengah ketidakpastian ekonomi global. Strategi pemilihan instrumen investasi sebaiknya tetap disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan jangka panjang masing-masing investor.