Bursa Saham

Dua Saham LQ45 Ini Lakukan Buyback Jumbo, Cek Prospeknya

87
×

Dua Saham LQ45 Ini Lakukan Buyback Jumbo, Cek Prospeknya

Sebarkan artikel ini
Logo PT Merdeka Battery Materials Tbk dan PT Kalbe Farma Tbk di bursa saham
Emiten LQ45, MBMA dan KLBF, mengumumkan rencana pembelian kembali saham dengan total nilai Rp1,88 triliun.

JAKARTA – Dua emiten penghuni indeks LQ45, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF), resmi mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dengan total nilai mencapai Rp1,88 triliun. Langkah korporasi ini diambil di tengah fluktuasi pasar saham Indonesia guna menjaga stabilitas harga dan memberikan sinyal kepercayaan manajemen terhadap nilai fundamental perusahaan.

MBMA mengalokasikan anggaran maksimal sebesar Rp1,383 triliun untuk aksi ini. Perseroan berencana membeli kembali sebanyak-banyaknya 1,465 miliar lembar saham.

Pelaksanaan buyback MBMA telah dimulai sejak Kamis, 17 September 2026, dan dijadwalkan berlangsung hingga 16 Desember 2026. Aksi ini akan dilakukan secara bertahap melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menunjuk perusahaan efek sebagai perantara.

Di sisi lain, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menyiapkan dana internal sebesar Rp500 miliar untuk program serupa. Periode pelaksanaan buyback KLBF direncanakan berlangsung selama tiga bulan, terhitung mulai 17 September 2026.

Manajemen KLBF memperkirakan penggunaan dana internal ini akan berdampak pada penurunan pendapatan bunga sebesar Rp8,4 miliar. Selain itu, terdapat biaya operasional perantara efek maksimal 0,1% dari nilai transaksi buyback.

Sentimen positif dari rencana buyback ini telah direspons pasar pada perdagangan Kamis (17/9/2026). Saham MBMA ditutup menguat 4% ke level Rp520, sementara saham KLBF naik 1,97% ke posisi Rp775 per lembar.

Meskipun demikian, kinerja kedua saham tersebut secara year-to-date (Ytd) masih berada di zona merah. Saham MBMA tercatat melemah 16,13%, sedangkan KLBF terkoreksi 35,68% sejak awal tahun 2026.

Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, menilai buyback ini berpotensi menjadi katalis positif bagi kedua emiten. Menurutnya, langkah ini menciptakan tambahan permintaan sekaligus memberikan sinyal harga saham yang sudah menarik bagi investor.

Elandry menjelaskan bahwa bagi KLBF, buyback berfungsi sebagai pendukung harga (price support) karena nilai anggarannya yang moderat. Sementara bagi MBMA, besarnya dana yang digelontorkan akan memberikan dampak sentimen dan likuiditas yang lebih signifikan.

Secara fundamental, KLBF dinilai memiliki karakter bisnis yang defensif di sektor kesehatan dengan pertumbuhan penjualan 14% pada semester I-2026. Fokus utama perseroan ke depan mencakup normalisasi margin dan optimalisasi ekspor.

Sebaliknya, MBMA lebih berorientasi pada pertumbuhan dan sangat sensitif terhadap harga komoditas nikel. Keberlanjutan harga sahamnya akan sangat bergantung pada perkembangan proyek hilirisasi dan kinerja operasional perusahaan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa buyback adalah sinyal bahwa harga pasar belum mencerminkan nilai fundamental perusahaan. Aksi ini dipandang efektif dalam meredam tekanan jual di pasar.

Nafan menyarankan investor untuk tetap memperhatikan margin laba sebagai indikator pemulihan bagi KLBF. Untuk MBMA, ia merekomendasikan strategi beli di kisaran Rp486-Rp515 dengan target harga hingga Rp580 per saham.