SINGAPURA – Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan penurunan untuk hari kedua berturut-turut seiring dengan dimulainya upaya pemulihan infrastruktur energi vital di Arab Saudi. Kebijakan ini dinilai mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Harga minyak mentah jenis Brent tercatat turun 0,9 persen ke level US$ 104,89 per barel pada Kamis (17/9/2026) pukul 08.31 waktu Singapura. Pada waktu yang sama, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga melemah 0,9 persen menjadi US$ 101,48 per barel.
Penurunan harga ini terjadi setelah Arab Saudi mulai memperbaiki jalur pipa minyak utama East-West yang sempat mengalami kerusakan akibat serangan pekan lalu. Jalur pipa ini merupakan infrastruktur strategis yang memungkinkan pengiriman minyak melintasi daratan Arab Saudi menuju pesisir Laut Merah.
Langkah perbaikan tersebut diproyeksikan mampu mengembalikan setengah kapasitas pipa dalam beberapa hari ke depan. Operasional penuh jalur pipa tersebut diharapkan dapat pulih sepenuhnya dalam waktu enam pekan mendatang.
Jalur pipa East-West memiliki peran krusial sebagai rute alternatif untuk menghindari pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Saat ini, Selat Hormuz masih menjadi titik ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Chief Investment Officer di Karobaar Capital LP, Haris Khurshid, menilai bahwa meski pasokan mulai kembali, pasar belum sepenuhnya berada dalam posisi aman. Ia menekankan bahwa ruang toleransi terhadap gangguan pasokan di pasar global saat ini masih sangat minim.
Sepanjang tahun ini, harga minyak mentah global telah melonjak sekitar 75 persen akibat akumulasi tekanan geopolitik. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta invasi Rusia ke Ukraina menjadi faktor utama yang memangkas arus pasokan energi dunia.
Lonjakan harga bahan bakar tersebut telah memicu tekanan inflasi global yang signifikan. Kondisi ini memaksa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, untuk terus menaikkan suku bunga sebagai upaya stabilisasi ekonomi.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan akan melakukan pertemuan dengan para pemimpin negara Teluk Persia di New York pada pekan depan. Pertemuan tersebut rencananya akan membahas langkah-langkah diplomatik untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Terkait kebijakan energi, Kongres Amerika Serikat baru saja memberikan persetujuan final atas undang-undang baru. Aturan ini memberikan kewenangan kepada Presiden Trump untuk menerapkan tarif terhadap negara-negara yang membeli produk minyak dari Rusia, seperti Tiongkok dan India.
Langkah ini juga menjadi bentuk dukungan Washington terhadap Ukraina dalam menghadapi invasi Rusia. Sebagai respons atas serangan drone yang menargetkan kilang minyak mereka, Moskow telah melarang sebagian besar ekspor diesel domestik sejak beberapa waktu lalu.
Pemerintah Rusia kini dikabarkan tengah mempertimbangkan untuk memperpanjang pembatasan ekspor bahan bakar tersebut hingga Oktober mendatang. Kebijakan ini menambah ketidakpastian pada rantai pasok energi global yang masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik berkepanjangan.






