Valuta

Rupiah Menguat di Agustus, Simak Rekomendasi Valas untuk Investasi Anda

37
×

Rupiah Menguat di Agustus, Simak Rekomendasi Valas untuk Investasi Anda

Sebarkan artikel ini
Tampilan grafik pergerakan nilai tukar mata uang Rupiah terhadap mata uang asing di layar monitor keuangan.
Nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan terhadap mayoritas mata uang utama sepanjang Agustus 2026.

JAKARTA – Nilai tukar rupiah menunjukkan kinerja yang kontras sepanjang tahun 2026. Meski mencatatkan penguatan terhadap mayoritas mata uang utama pada Agustus, posisi mata uang Garuda secara akumulatif sejak awal tahun (Year-to-Date/YtD) masih membukukan pelemahan.

Data Bloomberg per akhir Agustus 2026 menunjukkan, rupiah berhasil menguat terhadap tujuh dari delapan mata uang utama secara bulanan (Month-on-Month/MoM). Apresiasi tertinggi terjadi terhadap franc Swiss yang terkoreksi 5,89% ke level Rp 21.004,85.

Dolar AS juga mencatatkan pelemahan sebesar 1,86% MoM menjadi Rp 17.722. Tren serupa dialami yen Jepang, poundsterling Inggris, euro, dolar Singapura, dan dolar Kanada yang masing-masing mengalami depresiasi terhadap rupiah.

Satu-satunya mata uang yang masih menguat tipis terhadap rupiah selama Agustus adalah dolar Australia sebesar 0,09%. Namun, kondisi ini berbalik drastis jika melihat kinerja mata uang secara akumulatif sejak awal tahun.

Secara YtD, rupiah masih tertekan terhadap hampir seluruh mata uang utama dunia. Tekanan terbesar dialami terhadap dolar Australia yang menguat 12,83% YtD, diikuti dolar Singapura sebesar 7,39%, dan poundsterling Inggris sebesar 7,13%.

Analis menilai penguatan rupiah sepanjang Agustus didorong oleh pelemahan indeks dolar AS (DXY). Faktor utamanya adalah intervensi likuiditas buyback US Treasury serta melandainya imbal hasil obligasi AS.

Efektivitas instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga memberikan ruang bagi rupiah untuk terapresiasi. Selain itu, aksi ambil untung (profit taking) oleh pelaku pasar pada valas utama turut memperkuat posisi mata uang domestik.

Namun, penguatan tersebut terbentur oleh sentimen negatif yang bertahan sejak awal tahun. Faktor utama yang menekan rupiah adalah ekspektasi suku bunga tinggi dari The Fed serta tingginya defisit transaksi berjalan.

Komunikasi ketat dari Gubernur The Fed, Kevin Warsh, di Jackson Hole menjadi sorotan utama. Pidato tersebut memicu lonjakan imbal hasil obligasi AS tenor dua tahun dan kembali mengerek indeks dolar AS.

Ketegangan geopolitik, khususnya konflik AS–Iran yang mengganggu jalur Selat Hormuz, juga menjadi beban berat. Kondisi ini meningkatkan harga minyak dunia yang memperkuat posisi dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

Bagi Indonesia sebagai net importir minyak, kenaikan harga energi menambah kebutuhan valas untuk impor. Hal ini sekaligus meningkatkan risiko inflasi domestik yang membatasi ruang gerak rupiah.

Untuk strategi investasi, pelaku pasar disarankan mencermati mata uang berbasis komoditas seperti dolar Australia. Mata uang ini dinilai memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang seiring kuatnya harga komoditas global.

Investor juga disarankan mempertimbangkan yen Jepang sebagai instrumen defensif. Sementara itu, yuan Tiongkok dan dolar Singapura dinilai menarik untuk diversifikasi portofolio karena memiliki fundamental yang stabil.