Bursa Saham

IHSG Menguat di Akhir Agustus, Simak Proyeksi Perdagangan Selasa 1 September

34
×

IHSG Menguat di Akhir Agustus, Simak Proyeksi Perdagangan Selasa 1 September

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar pergerakan grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa efek
IHSG mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,11% pada penutupan perdagangan akhir Agustus 2026.

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir Agustus pada Senin (31/8/2026) dengan penguatan tipis sebesar 0,11% ke level 6.525,48. Kenaikan ini terjadi meski sepanjang sesi perdagangan indeks sempat tertekan di zona negatif.

Secara kumulatif, IHSG mencatatkan kinerja positif sepanjang Agustus 2026 dengan kenaikan sebesar 4,64% secara bulanan (Month on Month). Namun, jika dilihat dari awal tahun hingga saat ini (year-to-date), indeks masih membukukan koreksi sebesar 24,53%.

Sentimen pasar saat ini masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor makroekonomi global dan domestik. Tekanan eksternal datang dari pidato Chairman The Fed yang cenderung hawkish, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga fluktuasi harga komoditas global.

Selain itu, pelaku pasar tengah mengantisipasi dampak dari rebalancing indeks MSCI bulan Agustus. Perubahan komposisi indeks ini menjadi salah satu katalis yang memengaruhi volatilitas harga saham di pasar domestik.

Secara teknikal, IHSG terpantau masih bertahan di atas level MA5. Indikator Stochastic RSI juga menunjukkan adanya sinyal pembalikan arah atau reversal di area pivot, meskipun indikator MACD masih menunjukkan pelemahan pada histogram positif.

Analis memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam fase konsolidasi pada awal September 2026. Rentang pergerakan indeks diperkirakan berada pada kisaran level 6.450 hingga 6.570.

Investor kini beralih mencermati rilis data ekonomi domestik yang akan segera diumumkan. Fokus utama pasar tertuju pada data inflasi Agustus 2026 yang diproyeksikan tumbuh 2,86% secara tahunan (YoY), serta data PMI manufaktur yang diperkirakan masih berada di zona ekspansif pada level 50,5.

Stabilitas nilai tukar rupiah turut menjadi perhatian pelaku pasar. Pada penutupan perdagangan Senin, rupiah berada di level Rp17.722 per dolar AS, yang mencerminkan pelemahan indeks dolar (DXY) dan direspons positif oleh pasar.

Namun, kekhawatiran pasar kembali muncul akibat kenaikan harga minyak mentah. Peningkatan harga ini dipicu oleh eskalasi serangan militer Amerika Serikat di Timur Tengah yang meningkatkan risiko ketidakpastian pasokan energi global.

Memasuki perdagangan Selasa (1/9/2026), IHSG diperkirakan akan bergerak variatif dengan kecenderungan menguat terbatas. Rentang support diperkirakan berada di level 6.428 dengan resistance di level 6.585.

Pelaku pasar disarankan untuk tetap selektif dalam pemilihan saham. Beberapa rekomendasi teknikal yang dapat diperhatikan meliputi speculative buy pada saham MEDC dengan support Rp1.340 dan resistance Rp1.545, serta trading buy pada saham ESSA di kisaran Rp610–Rp720.