Investasi

Sulawesi Tengah Ajak Investor Bangun Industri Hilir Kakao

46
×

Sulawesi Tengah Ajak Investor Bangun Industri Hilir Kakao

Sebarkan artikel ini
Pekerja sedang memanen biji kakao di perkebunan wilayah Sulawesi Tengah
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah mendorong investasi industri hilir untuk meningkatkan nilai tambah komoditas kakao lokal.

PALU – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah secara aktif membuka peluang investasi bagi pihak swasta untuk membangun industri pengolahan kakao di daerah tersebut. Langkah ini diambil guna meningkatkan nilai tambah komoditas pertanian lokal yang produksinya mencapai 126.516 ton sepanjang 2025.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Sulawesi Tengah, Muhammad Neng, menyatakan bahwa besarnya volume produksi saat ini harus diikuti dengan penguatan sektor hilir. Selama ini, ketergantungan pada penjualan komoditas mentah dinilai membatasi potensi ekonomi bagi para petani di daerah tersebut.

Kehadiran pabrik pengolahan menjadi kunci utama dalam rantai industri kakao yang terintegrasi. Dengan adanya fasilitas pemrosesan di dalam wilayah provinsi, petani tidak lagi hanya mengandalkan penjualan biji kering.

Kabupaten Parigi Moutong tercatat sebagai produsen terbesar dengan kontribusi mencapai 29.683 ton atau sekitar 23,46 persen dari total produksi provinsi. Wilayah lain seperti Poso, Donggala, Sigi, dan Banggai juga memberikan kontribusi signifikan terhadap angka produksi tahunan.

Pemerintah daerah menekankan bahwa penguatan sektor kakao tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan volume produksi di tingkat kebun. Aspek kualitas biji, kapasitas sumber daya manusia petani, serta akses pembiayaan menjadi variabel penting yang harus diperkuat.

Dukungan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian telah memperkuat ekosistem ini dengan penyaluran 18,7 juta bibit kakao selama dua tahun terakhir. Upaya peremajaan tanaman ini diharapkan dapat melipatgandakan produktivitas dalam tiga hingga empat tahun ke depan.

Proyeksi peningkatan hasil panen tersebut menuntut kesiapan pasar dan kapasitas industri pengolahan yang memadai. Tanpa adanya hilirisasi, lonjakan produksi di masa depan justru berisiko menekan harga jual komoditas mentah di tingkat petani.

Upaya ini sejalan dengan tren hilirisasi komoditas yang tengah digalakkan di berbagai wilayah Indonesia untuk menjaga kemandirian ekonomi. Beberapa daerah lain seperti Papua juga telah mulai membangun ekosistem industri olahan pangan berbasis potensi lokal.

Selain Sulawesi Tengah, daerah lain di Sulawesi seperti Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan juga sedang memacu potensi kakao mereka untuk menggaet minat investor. Pemerintah pusat melalui Bappenas bahkan telah melakukan peninjauan langsung ke sentra produksi di Polewali Mandar untuk memastikan kesiapan infrastruktur industri.

Investasi di sektor pengolahan kakao diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Selain itu, nilai ekonomi yang tertinggal di daerah akan meningkat signifikan dibandingkan hanya mengekspor bahan mentah ke luar wilayah.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah berkomitmen memberikan kemudahan bagi investor yang berminat membangun fasilitas pengolahan. Langkah ini merupakan strategi jangka panjang untuk menjadikan Sulawesi Tengah sebagai pusat industri kakao yang kompetitif di pasar nasional maupun internasional.