Bursa Saham

Transaksi Jumbo Saham BYAN Rp26,1 Triliun di Pasar Negosiasi

31
×

Transaksi Jumbo Saham BYAN Rp26,1 Triliun di Pasar Negosiasi

Sebarkan artikel ini
Layar monitor menampilkan data perdagangan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di Bursa Efek Indonesia.
Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan transaksi jumbo di pasar negosiasi BEI senilai Rp26,1 triliun.

JAKARTA – Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mencatatkan transaksi jumbo di pasar negosiasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nilai mencapai Rp 26,1 triliun. Transaksi tersebut melibatkan volume saham sebanyak 10,08 miliar lembar, yang secara signifikan mendekati porsi kepemilikan saham yang akan diakuisisi oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama.

Berdasarkan data BEI, transaksi tersebut terjadi dalam tiga tahap pada Rabu (7/10/2026) dengan harga eksekusi Rp 2.588 per saham. Harga ini tercatat jauh di bawah harga penutupan di pasar reguler pada hari yang sama, yakni Rp 12.550 per saham, atau diskon sekitar 76,53%.

Rincian transaksi dimulai pada pukul 09.31 WIB sebanyak 16,67 juta saham dengan nilai Rp 43,1 miliar. Disusul kemudian pada pukul 09.38 WIB sebanyak 5 miliar saham senilai Rp 12,94 triliun, dan ditutup dengan transaksi 5,067 miliar saham senilai Rp 13,11 triliun pada pukul 09.39 WIB.

Volume 10,08 miliar saham tersebut setara dengan 30% dari total modal ditempatkan dan disetor BYAN. Angka ini selaras dengan perubahan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) yang ditandatangani oleh Low Tuck Kwong, Elaine Low, dan Jhonlin Baratama pada 1 Oktober 2026.

Meskipun terjadi perpindahan saham dalam skala masif, analis pasar menilai transaksi ini tidak serta-merta mengubah struktur pengendalian perusahaan. Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal, menyatakan bahwa Low Tuck Kwong dan Elaine Low tetap memegang kendali signifikan atas emiten tambang batu bara tersebut.

Kondisi ini menyebabkan tidak adanya kewajiban penawaran tender wajib (mandatory tender offer) bagi pihak pembeli. Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas menambahkan, harga transaksi Rp 2.588 mencerminkan price to earnings (PE) annualized sekitar 6,1 kali, yang jauh lebih rendah dibandingkan PE di pasar reguler sebesar 29,7 kali.

Transaksi besar ini berlangsung hanya sehari setelah Low Tuck Kwong melepas 33,33 juta saham BYAN pada 6 Oktober 2026 di harga Rp 11.025 per saham. Pasca aksi tersebut, kepemilikan saham Low Tuck Kwong di BYAN tercatat sebesar 40,15%.

Di sisi lain, kelompok usaha Haji Isam juga terpantau aktif melakukan konsolidasi aset di pasar modal. Beberapa entitas terafiliasi, seperti PT Eshan Agro Sentosa yang mengendalikan PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan pemegang saham pengendali PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN), diketahui menggadaikan saham mereka ke PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Manajemen JARR dan PGUN menegaskan bahwa aksi gadai saham tersebut dilakukan sebagai jaminan fasilitas kredit. Perusahaan memastikan langkah tersebut tidak berdampak pada perubahan pengendalian, tidak menimbulkan dilusi saham, serta tidak mengubah struktur permodalan perusahaan.