JAKARTA – Kinerja reksadana saham di Indonesia menunjukkan tren positif sepanjang Agustus 2026, sejalan dengan penguatan signifikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Data Infovesta mencatat rata-rata imbal hasil atau return reksadana saham mencapai 3,60% secara bulanan (month-on-month).
Pencapaian ini selaras dengan kenaikan IHSG yang tumbuh sebesar 4,64% selama periode yang sama. Kinerja pasar yang dinamis memberikan ruang bagi manajer investasi untuk mencatatkan performa di atas rata-rata industri.
Salah satu produk yang mencatatkan kinerja menonjol adalah Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh. Produk tersebut berhasil membukukan return sebesar 7,21% pada Agustus 2026.
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menyatakan bahwa rebound dan reli yang terjadi di IHSG menyentuh hampir seluruh sektor. Kondisi tersebut menjadi katalis utama bagi pertumbuhan nilai aset dalam portofolio investasi.
Berdasarkan data fund fact sheet per 31 Juli 2026, portofolio Panin Dana Infrastruktur Bertumbuh didominasi oleh sektor keuangan dengan porsi mencapai 41,5%. Sektor energi menempati urutan kedua dengan alokasi 19,4%, diikuti sektor properti dan real estat sebesar 18,1%.
Alokasi aset lainnya tersebar pada sektor perindustrian sebesar 5,8%, barang baku 4,9%, dan infrastruktur sebesar 3,9%. Produk ini juga memiliki eksposur pada sektor konsumen non-primer sebesar 2,6% dan konsumen primer 1,7%.
Selain saham, manajer investasi juga menempatkan dana pada instrumen kas dan pasar uang, termasuk deposito serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebesar 2,2%. Strategi ini telah diterapkan sejak awal tahun sebagai bagian dari manajemen risiko portofolio.
Rudiyanto menegaskan bahwa pihaknya tetap mempertahankan posisi overweight pada sektor energi dan komoditas. Strategi ini dipandang relevan dengan kondisi pasar yang masih mengandalkan sektor tersebut sebagai penggerak utama.
Di sisi lain, Panin Asset Management mengambil langkah underweight untuk sektor infrastruktur. Keputusan tersebut didasari oleh kinerja emiten di sektor infrastruktur yang dinilai belum menunjukkan performa optimal.
Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk terus menyesuaikan alokasi aset berdasarkan perkembangan kinerja emiten dan dinamika pasar saham. Langkah ini diambil untuk memastikan portofolio tetap kompetitif di tengah kondisi ekonomi yang penuh risiko.
Penguatan pasar saham pada Kamis (3/9/2026) turut memberikan sentimen positif bagi investor domestik. IHSG sendiri menutup perdagangan hari ini dengan kenaikan 1,09% ke level 6.667,89.
Sentimen ini diperkuat oleh pernyataan Gubernur Federal Reserve, Christopher Waller, yang mengisyaratkan keterbukaan untuk menahan kenaikan suku bunga acuan. Kepastian kebijakan moneter global tersebut menjadi angin segar bagi pasar keuangan Indonesia.
Investor saat ini tetap memantau perkembangan ekonomi makro, termasuk dampak dari Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027. Stabilitas nilai tukar rupiah juga menjadi faktor kunci yang menjaga daya tarik pasar obligasi dan reksadana nasional.





